Follow Me !
Follow My IG
  • How prepared are you? Two more weeks and its gettinghellip
  • All my life essentials in one frame flowers flowerstagram fujihellip
  • Last weekend we had a short getaway to Jogja Forhellip
  • Another milestone End of another grueling two years I thinkhellip
  • Selesai seminar 2 bersama 3 dosen super baik Now offhellip
  • Jumat itu hari yang paling menyenangkan buat berlehaleha Berandaiandai tentanghellip
  • Every beginning has an end and every ending is thehellip
  • Over the last few years I always get to seehellip

5 hal yang harus diketahui saat belajar fotografi

Belajar fotografi bagi sebagian orang adalah proses yang cukup menakutkan karena banyaknya istilah dan hal tehnis yang harus dikuasai pada saat bersamaan. Saat browsing galeri foto seorang fotografer atau melihat-lihat forum fotografi banyak terlihat foto-foto yang sangat menarik dan punya daya WOW yang sangat besar. Tapi seorang awam atau yang sedang belajar fotografi bisa jadi langsung demotivasi saat melihat penjelasan proses terciptanya foto tersebut. Begitu banyak istilah fotografi dan tips bertebaran yang kelasnya tidak kurang berat dibandingkan rumus matematika dan aljabar.

 

Walaupun tehnologi kamera saat ini sudah cukup mumpuni, tapi dalam banyak kondisi setting Auto pada kamera tidak bisa bekerja optimal dalam menghasilkan foto terbaik. Berapa banyak dari kita yang sering bertanya ‘kok foto saya lebih jelek dari sebelumnya waktu pakai kamera saku ya ?’. Padahal sudah menggunakan kamera DSLR terbaru dan tercanggih yang bisa dibeli.

 

Kamera DSLR didesain untuk memberikan hasil maksimal apabila bisa dikendalikan dengan baik oleh penggunanya. Banyaknya fitur yang dimiliki memberikan fleksibilitas kepada pengguna untuk bereksperimen dengan pengaturan yang berbeda-beda. Dengan catatan, sang pengguna tau fitur apa memberikan efek apa ya …

 

Nah, hal-hal apa saja sih yang harus kita ketahui saat pertama kali belajar fotografi ?

 

1. Aperture, Speed, dan ISO

 

Ketiga hal ini biasa juga dikenal dengan nama segitiga exposure. Foto yang baik adalah foto yang terexpose dengan sempurna. Artinya bagian obyek foto yang terang terlihat terang, bagian gelap terlihat gelap dengan tetap mempertahankan detail pada bagian-bagian tersebut.

 

Untuk exposure yang baik, obyek foto harus mendapatkan cahaya yang pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Seberapa pas nya cahaya ini diatur oleh ketiga hal diatas. Aperture, speed, dan ISO.

 

Aperture yang juga sering disebut dengan Bukaan, adalah besarnya penampang bidang yang bisa dilewati oleh cahaya pada lensa. Semakin besar bukaan, semakin banyak cahaya yang bisa lewat. Untuk lensa-lensa yang umum ditemui saat ini bukaan terbesar biasanya di angka F/1.8 atau F/2.8, dimana 1.8 dan 2.8 ini adalah angka perbandingan, bukan angka ukuran. 1.8 bukaannya lebih besar dari 2.8. Bukaan terkecil biasanya di F/22 atau F/32, tergantung merk lensa yang digunakan.

 

Speed atau kecepatan mengukur seberapa cepat shutter terbuka untuk membiarkan cahaya lewat dan terekam pada sensor kamera. Speed tidak tergantung pada lensa, tapi pada kamera. Kamera DSLR mainstream biasanya memiliki rentang kecepatan dari 1/4000 detik sampai 30 menit. Shutter bisa terbuka lebih lama dari 30 menit melalui pengaturan Bulb pada kamera. Biasanya digunakan untuk memotret pada lingkungan yang sangat gelap seperti didalam gua atau pada malam hari saat memotret star trail.

 

ISO adalah kadar sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya. Umumnya kamera DSLR memiliki ISO terendah 100 dan angka maksimal bisa sampai 12800 bahkan ISO 25400. Semakin rendah angka ISO, semakin tidak sensitive sensor terhadap cahaya. Artinya, ISO 100 membutuhkan 2 kali lebih banyak cahaya daripada ISO 200 untuk mendapatkan exposure yang sama. Kadar sensitivitas yang makin meningkat berdampak pada turunnya kualitas hasil foto dari sensor tersebut.

 

Exposure obyek
foto yang tepat ditentukan dari kombinasi ketiga hal tersebut diatas. Untuk mudahnya, demi mendapatkan kualitas gambar terbaik ISO biasanya di tetapkan di angka terkecil (100). Dengan aperture yang sama, semakin cepat shutter (1/8000 adalah yang tercepat), semakin gelap hasil foto yang dihasilkan. Sebaliknya, pada speed yang sama, semakin besar bukaan (f/1.4 atau f/1.8 adalah bukaan terbesar) semakin terang foto yang dihasilkan.

2. Metering

 

Istilah metering adalah proses pengukuran cahaya pada obyek foto. Melalui metering inilah ditentukan berapa banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan foto dengan pencahayaan yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Apa perlu alat tambahan selain kamera untuk metering ini ? Jangan kuatir, proses metering sudah ditangani oleh kamera secara langsung.

 

Saat membidik obyek melalui viewfinder, kita menekan tombol shutter release setengah penuh untuk menangkap fokus. Saat inilah kamera juga melakukan proses metering. Hasil pengukuran cahaya disampaikan melalui bacaan speed dan bukaan diafragma yang tertera pada layar LCD.

3. Mode P, A, S, M

 

Berhubungan erat dengan poin 2 diatas, mode P, A, S, M ini mengatur bagaimana kamera menyikapi hasil dari metering dan melakukan penyesuaian seperlunya untuk mencapat exposure yang diinginkan.

 

Mode P atau Programmed adalah mode semi otomatis dimana kamera mengatur sebagian setting, dan fotografer masih bisa mengubah beberapa setting tertentu. Mode ini cukup baik bagi pemula yang selalu menggunakan mode Otomatis untuk transisi menuju mode Manual atau A/S.

 

Mode M atau Manual adalah mode dimana semua setting harus ditentukan oleh fotografer. Saat metering kamera hanya akan menunjukkan apakah setting tersebut over atau underexposure. Penyesuain aperture, speed atau iso harus dilakukan secara manual untuk menyikapi hasil metering tersebut.

 

Pada mode A, fotografer menentukan besarnya bukaan (aperture) dan kamera akan menentukan speed yang sesuai untuk mencapai exposure yang ideal. Pengguna Canon akan melihat mode ini sebagai Av.

 

Sebaliknya pada mode S (atau Tv bagi pengguna Canon), fotografer menentukan besarnya shutter speed, dan kamera akan menentukan bukaan lensa ideal untuk exposure yang pas. Mode S atau Tv sering digunakan saat memotret sport atau action untuk membekukan pergerakan.

4. Focal Length

 

Focal length atau jarak titik fokus menunjukkan seberapa besar bidang yang tertangkap oleh frame kamera. Istilah-istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan focal length ini adalah Wide angle, Normal dan Tele. Di era digital mulai populer satu lagi kategori Ultra Wide Angle (UWA).

 

Focal length ditandai dengan angka pada lensa. Biasanya pada lensa kit bawaan kamera tertera angka 17mm atau 18mm sampai dengan 50mm. Semakin besar angkanya, semakin membesar obyek yang terlihat di viewfinder, namun konsekwensinya semakin kecil area yang tercakup di dalam frame.

5. Komposisi

 

Kalau poin 1-4 diatas berhubungan erat dengan kamera atau alat yang digunakan untuk memotret, komposisi erat kaitannya dengan sense of art dari si fotografer. Fotografi selalu dibilang sebagai gabungan antara art dan science. Hal tehnis yang berhubungan dengan kamera adalah science sedangkan komposisi dan estetika adalah sisi art dari fotografi.

 

Dari sekian banyak bahasan tentang komposisi ada 2 hal yang paling sering muncul sebagai topik utama. Rule of Third dan Dead Center. Kedua istilah ini mengacu pada penempatan POI (Point of Interest) dari foto yang kita ambil.

 

Demikianlah 5 hal utama yang perlu dipelajari saat pertama kali menggunakan kamera. Tentu saja masih banyak hal lain yang perlu diketahui untuk mendapatkan foto-foto dengan daya WOW yang maksimal. Tapi dengan mengetahui 5 hal dasar ini, foto-foto yang dihasilkan seharusnya sudah memadai dan bersaing dengan foto yang dihasilkan di mode Otomatis.

1 Comment

Post a Comment