Follow Me !
Follow My IG
Sunrise Borobudur

Borobudur penuh harapan

Setapak demi setapak undakan anak tangga yang terbuat dari batu alam itu saya pijak. Cukup tinggi dan curam untuk ukuran langkah laki-laki dewasa jaman sekarang. “Apa mungkin para manusia di abad ke 8 itu berukuran seperti raksasa ?”, gumam saya. Namun tidak banyak waktu untuk memikirkan hal tersebut karena suara-suara orang berbincang dalam bahasa jerman dan singlish mulai terdengar sayup-sayup makin mendekat di belakang saya.

Sambil mengatur napas saya berhenti di setiap pelataran tingkatan untuk memastikan ada sesuatu yang menarik bisa saya temukan. Lorong memanjang dengan dinding penuh relief dan beratapkan kelap-kelip bintang memanjang dan menghilang di kegelapan subuh. Konon menurut cerita, relief-relief tersebut bercerita tentang perjalanan hidup manusia dari tingkatan yang paling dasar menuju ke tingkatan kesempurnaan.

Relief Borobudur

Dengan penerangan seadanya lampu senter kecil, mata saya menyapu deretan relief tersebut, berebutan dengan satu per satu ingatan tentang berbagai kejadian dalam hidup saya selama ini. Long way menuju ke kesempurnaan di puncak stupa .. but hey .. at least I’m a happy man now.

Candi Borobudur sudah lama menjadi lokasi yang saya incar sebagai tempat menyambut matahari di pagi hari yang biasanya saya rayakan dengan introspeksi, menghitung apa saja yang sudah saya lakukan, dan apa saja yang belum saya lakukan, sambil berharap buku rapor kehidupan saya tidak merah selama satu tahun yang sudah berlalu ini. Dan dua bulan setelah tiket yang saya beli secara impulsive itu, here I am .. di puncak Borobudur dalam keheningan pagi sambil berharap sang kabut berbaik hati memberikan jalan kepada matahari untuk bersinar, setidaknya untuk pagi ini saja ..

Kurang dari 24 jam sebelumnya saya mendarat di Jogja, dan thanks to Ferdie saya tidak perlu menggunakan jasa bus Trans Jogja untuk berkeliling. Tawaran untuk menghabiskan waktu di basecamp nya Citra Elo terlalu sulit untuk ditolak. Heck .. rencana awal saya untuk muter-muter ngga jelas di Jogja saya batalkan. Keputusan yang nantinya terbukti sangat tepat.

Gudeg Yutien Muntilan

Dalam perjalanan menuju Sungai Elo kami mampir di Gudeg Yutien, Muntilan. Sangat tradisional dan tidak semanis gudeg Jogja, saya hampir kalap untuk memesan pincuk kedua, tapi untunglah tersadar masih banyak kuliner lain yang harus saya coba dalam waktu kurang dari 2 hari ini.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Borobudur, tepatnya titik yang menjadi pertemuan sungai Elo dan Progo. Melintasi jalan raya Jogja-Magelang yang super lebar dengan pemandangan kerajinan ukiran dan patung batu dan persawahan di kiri dan kanan jalan, saya mengalami dejavu 19 tahun yang lalu. Satu per satu bagian-bagian yang asing bagi mata saya menjadi obyek yang sangat familiar dan tanpa perlu usaha yang berarti saya bisa dengan mudahnya mengingat persimpangan mana yang harus kami lewati dan kapan harus berbelok ke kiri ataupun kanan. Pengalaman selama 3 tahun yang mengubah hidup saya secara drastis.

Basecamp Citra Elo bagaikan surga yang tersembunyi. Setelah melewati jalan masuk diantara sawah yang menguning, saya disambut bunyi gemuruh air sungai lengkap dengan menara kokoh yang cocok sebagai menara pengawas. Mungkin suatu hari nanti, dengan orang yang tepat saya akan mau mencoba rafting. Kelihatannya cukup aman dan seru dengan para guide berpengalaman. Tapi untuk sekarang, dengan segala perlengkapan untuk memotret yang saya bawa, rasanya masih harus bersabar.

Merapi Merbabu

Di timur berdiri gagah dua gunung kembar Merapi dan Merbabu. Saat-saat tertentu dalam tahun, matahari akan muncul tepat diantara dua gunung ini. Ke arah barat ada gunung Sumbing yang pemalu dan hampir selalu diselimuti kabut. Dari puncak menara, Borobudur berdiri megah tersamar diantara pucuk pepohonan yang dijaga oleh pegunungan Menoreh dari kejauhan. “I wish you are here with me …”, batin saya sambil mengiyakan dan bergegas turun saat suara di telfon itu mulai bawel mengkuatirkan gelapnya malam dan tingginya jarak yang harus dilewati untuk turun dari menara. Bawel maybe .. but I’m smiling anyway …

Borobudur di Kejauhan

Jauh setelah matahari melewati horizon saya tiba di kompleks Candi Borobudur. Masih cukup ramai dengan aktivitas masyarakat yang hidup disekitar kompleks Candi. Banyak penginapan kelas backpackers dengan kondisi kamar yang cukup bersih bisa ditemukan disekitar Borobudur. Harga berkisar antara 75ribu-250ribu dengan AC. Untuk kenyamanan banyak juga pilihan hotel sekelas resort seperti hotel Manohara yang dikelola oleh pihak pengelola candi. Tiket khusus untuk masuk kompleks candi Borobudur saat sunrise pun harus diperoleh melalui hotel Manohara ini.

250 ribu rupiah untuk kepemilikan candi Borobudur secara private selama 1.5 jam. Rombongan pertama mulai bergerak menuju candi jam 4.30 pagi.

Kenyataannya pagi itu alam tidak cukup bersahabat. Sampai menjelang jam 6 pagi kabut tebal masih menyelimuti kompleks bangunan candi, menambah dingin suasana pagi itu. Memang tidak selamanya apa yang kita inginkan bisa didapatkan dengan mudah. Saat duduk diam menghadap ufuk timur yang sudah pasti menjadi tempat sang matahari menampakkan diri, kabut tebal menghalangi seolah tak rela semuanya begitu mudah untuk dicapai.

Sunrise Borobudur

Dalam segala ketidak-jelasan pemandangan dalam kabut, hanya kesabaran yang menjadi kunci utama. Somehow akan ada waktunya bagi sang matahari untuk muncul, menampakkan diri dan mengambil peranan menunjukkan bahwa pagi itu selalu indah, dan tidak ada salahnya untuk selalu berharap ..

Karawaci, 13 Juni 2013
hey buat kamu yang sedang berulang tahun hari ini .. selamat ulang tahun :)

2 Comments

  • CitraElo Magelang

    13.06.2013 at 13:45 Reply

    Thank you for visiting CitraElo Rafting, hope to see you again, soon. Warm regards from us.. @CitraElo :)

    Arung Jeram Magelang | CitraElo Rafting

    • spekology

      13.06.2013 at 13:42 Reply

      It was a great pleasure to spend the whole day at @CitraElo. Definitely would want to come back again someday .. :)

Post a Comment