Follow Me !
Follow My IG
Gunung Batok

Bromo, mengejar sang bintang

Udara yang dingin menggigit mengingatkan saya dengan perjalanan ke Papandayan dan Ciwidey tahun 2012 lalu. Bedanya mungkin saat ini saya lebih siap dalam hal perlengkapan. 2 set jaket dan topi kupluk sudah stand by untuk digunakan jika hawa dingin menjadi tidak tertahankan.

Menjelang tengah malam kami berbelok kanan, keluar dari jalur jalan Pasuruan-Probolinggo mengambil jalan yang menuju desa Ngadisari. Tidak terburu-buru tapi nampak ada beberapa mobil di belakang kami membentuk satu barisan panjang yang meliuk-liuk di jalan sempit yang kondisinya cukup baik. “Sebulan yang lalu jalannya ngga serapih ini lho mas”, cerita Mas Kun yang menjadi driver kami malam itu. Keheranan tersebut terjawab dengan banyaknya umbul-umbul dan spanduk sepanjang perjalanan menyambut kedatangan bapak Presiden RI beserta ibu.

Kurang lebih 1 jam kemudian tanjakan menjadi semakin ekstrim. Di sisi kiri jalan ruang hampa hitam kelam dan tanpa terlihat pun bisa terasa kosong nya jurang yang terjal di depan mata. Satu per satu mulai nampak penerangan rumah penduduk yang semakin padat semakin jauh kami mendaki. Waktu menunjukkan jam 2 pagi saat kami memasuki desa Ngadisari, .. aka Cemoro Lawang, yang menjadi pos terakhir sebelum melanjutkan perjalanan dengan jeep sewaan menuju viewing point.

Masih ada 1-2 jam sebelum jeep dari koperasi setempat menjemput kami menuju Penanjakan 2 yang akan menjadi viewing point hari ini. Sehubungan dengan kunjungan kepala negara, Penanjakan 1 dan beberapa spot di sekitar kawah bromo seperti lautan pasir, bukit teletubies, dan savannah tidak bisa diakses oleh publik.

Stargazing

Waktu yang sempit terlalu berharga untuk dipakai tidur. Tidak ingin kehilangan momen, saya berkeliling lokasi parkiran mencari spot yang menarik untuk memotret bintang. Ribuan bintang dilangit bisa terlihat dengan mata telanjang seolah berlomba menunjukkan diri siapa yang paling terang.

Angin dingin mulai terasa menembus kulit dan menyentuh tulang. Dengan jaket parasut dan jaket kulit yang saya kenakan, dinginnya masih tetap saja terasa. Obrolan dan candaan sepanjang perjalanan tadi hilang berganti dengan gemeletuk gigi beradu kedinginan. Pastinya selapis blazer, topi kupluk dan sepasang sarung tangan itu tidak akan sanggup melindungi gempuran dingin angin Bromo di pagi hari. Tanpa banyak protes dan basa-basi jaket kulit saya berpindah tangan. Jaket biker katanya. Sergapan hawa dingin sempat menghentikan napas saya dan otot badan berkontraksi tak terkendali. Tapi somehow .. somewhere deep inside ada perasaan hangat, melihat bibir itu tidak lagi pucat kebiruan dan sebaris senyum hangat mulai terkembang. Walaupun sangat tipis ..

Berhadapan dengan alam semesta dalam keheningan malam semakin menegaskan kesadaran  saya betapa kecilnya manusia itu. Perasaan kecil dan kedinginan membuat saya berpikir tentang berbagai macam perjalanan yang pernah saya jalani. Bintang adalah salah satu obyek favorit fotografi saya. “Ah .. sampai kapan perjalanan mencari bintang ini akan berlanjut”, terbesit pertanyaan galau itu dalam pemikiran saya.

Kamera dan perlengkapannya saya bereskan, pertama kalinya dalam sejarah semangat memotret tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Duduk memeluk lutut untuk mengusir dingin sambil merasakan kehangatan bersama teman-teman yang lain, suatu kesadaran mulai muncul, bahwa mungkin .. bintang yang paling terang adanya tidak di langit … mungkin selama ini saya melihat ke arah yang salah. Mungkinkah sang bintang itu tidak untuk dilihat .. tapi untuk dirasakan  ?

Milkyway

“157, 158, 159 .. 160. Hayo .., 10 anak tangga lagi bisa istirahat”,  teriak saya disela-sela napas sendiri yang ngos-ngosan. 5 menit yang lalu jeep hardtop yang membawa kami ke Penanjakan 2 berhenti di titik terjauh pengantaran. Perjalanan selanjutnya cukup terjal dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Ada opsi menyewa kuda, tapi saya rasa butuh nyali 2 kali lebih besar untuk duduk di punggung kuda sambil mendaki tanjakan sempit berbatu dan terjal tersebut. Tidak ingin terpisah, beberapa kali kami berhenti untuk menarik napas panjang, dan tentu saja foto-foto.  Hey .. we’re not that young anymore. Bisa segini tinggi aja udah prestasi yang luar biasa.

210 anak tangga kemudian gerbang masuk viewing point Penanjakan 2 sudah di depan mata. Semerbak kopi hangat dan jagung rebus cukup menusuk hidung, tapi udara terlalu dingin untuk peduli dengan hal-hal tersebut. Belum cukup banyak orang yang ada disana. Kami masih bisa berleha-leha memilih tempat terbaik untuk duduk sambil memotret alam sekitar, walaupun suasana masih cukup gelap hanya diterangi sinar bulan dan kelap-kelip bintang dilangit.

Masih ada 1-1.5 jam menuju matahari terbit. Antusiasme orang-orang sekitar yang sibuk bereksperimen memotret bintang dengan sang Bima Sakti yang terbentang megah diatas kawah Bromo tidak cukup menghilangkan dingin dan membangkitkan keinginan saya untuk memotret. Tidak semua dari kami sibuk memotret, ada juga yang lebih memilih untuk duduk menikmati dinginnya pagi, berlindung dibalik topi kupluk berlogo gunung bromo, sarung tangan, dan jaket bikernya. Setelah 1-2 frame dari spot wajib  Penanjakan 2, saya kembali duduk dan sibuk dengan pemikiran-pemikiran sendiri yang tak putus-putusnya melompat dari satu kejadian ke kejadian yang lain, dari yang sudah lama hilang sampai ke yang baru saja terjadi.

The Valley

Saat langit di belakang kami mulai memerah menyambut matahari, seorang ibu  tergopoh-gopoh dalam kepanikan mengajak kami untuk berbalik arah jangan sampai ketinggalan meyaksikan fenomena alam ini. “Tenang aja bu, kita disini buat menikmati sinar matahari pagi kok, bukan buat matahari terbit”, kekeuh response saya yang enggan meninggalkan tempat ini.

Derai tawa yang menyusul dan hangatnya genggaman tangan itu meyakinkan saya bahwa memang tak selamanya sang bintang harus berada di langit …

Gunung Batok

 

 

karawaci, 17 Mei 2013

Kenangan tercipta bukan dari tujuan akhir, tapi dari hal-hal yang terekam sepanjang perjalanan …
-jw-

2 Comments

  • Mas Teguh

    17.05.2013 at 23:06 Reply

    Meski sudah terjamah jutaan manusia..Bromo tetep saja mistis

    • spekology

      17.05.2013 at 01:36 Reply

      betul mas teguh. efek mistisnya masih terasa sampai sekarang buat saya lho ..

Post a Comment