Kemilau pesisir pantai Minahasa Tenggara

Kemilau pesisir pantai Minahasa Tenggara

Saya bergidik membayangkan ban belakang mobil yang hampir selip dan terjepit di rekahan tanah yang menjadi jalur aliran air. Jalanan ini jelas pernah mulus, terlihat dari bagian-bagian aspal menghitam yang masih mengeras di sana sini. Tapi sebagian besar permukaan jalan sudah hancur menyisakan got-got mini di tengah jalan dengan beberapa bagian tanah pembatas antar got tersebut yang masih cukup lebar untuk dilewati ban mobil. Tergelincir masuk ke got tersebut, ban mobil akan terjepit dan mungkin dibutuhkan mobil derek untuk menariknya keluar. Sebastian Loeb pasti akan sangat bergembira disini menemukan habitatnya. Sayangnya saya bukan pereli, dan pastinya sekarang sedang liburan. Kondisi jalan seperti ini benar-benar diluar dugaan saya.

Berangkat pagi tadi jam 4 dari rumah, kami melalui jalan ring road Manado yang menghubungkan Winangun dan Maumbi, kemudian terus menuju arah Bitung. Kali ini kami berencana untuk menelusuri pesisir pantai tenggara Minahasa yang terkenal landai dan berpasir putih halus. Sangat bertolak belakang dengan kondisi pesisir utara semenenanjung utara pulau Sulawesi ini yang didominasi batu-batuan karang.

Situasi di Manado benar-benar berbeda dengan di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi di pulau lain. Jam 4 pagi, dan jalanan masih sangat lengang. Praktis saya satu-satunya pengguna jalan saat ini. Dalam 30 menit saya tiba di daerah Kauditan, percabangan jalan yang mengharuskan saya keluar dari jalur utama yang menuju Bitung, mengambil jalan yang sedikit lebih sempit dan kurang mulus menuju desa Kema.

Saat ini sudah menjelang Paskah. Di sepanjang jalan di bagian manapun di Manado banyak ditemukan lampion berbentuk salib yang diatur berjejer di pinggir jalan. Pemandangan yang indah dan religious, kalau dilihat pada saat ramai. Lain cerita kalau dilihatnya di pagi subuh yang sepi seperti ini. Beberapa kali saya terkaget-kaget setelah tikungan tajam karena tiba-tiba di depan saya terpampang jejeran salib yang menyala kinclong. “Kuburan mana ini ?”, spontan pikir saya, kemudian tersadar bahwa itu adalah jejeran lampion yang dipasang atas swadaya warga untuk menyemarakkan Paskah. Ide yang cukup kreatif, tapi saya rasa penerapannya perlu dipikirkan lebih jauh lagi ..

Desa Kema masih berselimut gelap saat kami tiba disana. Dan seiring langit di timur yang semakin terang membiru, mobil saya percepat menyusuri gelapnya jalan desa yang cukup mulus, namun gelap karena minimnya penerangan, menuju Makalisung. Beberapa tahun yang lalu masyarakat  harus menggunakan perahu untuk menuju ke pusat keramaian terdekat karena tidak ada jalan memadai yang menghubungkan daerah tersebut. Adanya jalan ini sangat membantu mereka walaupun masih banyak warga sekitar yang tidak tau bahwa menuju makalisung sekarang tidaklah sesulit dahulu.

Saat bayang-bayang pepohonan mulai hilang diganti birunya langit, saya sigap mencari posisi parkir untuk menyambut sang mentari. Selamat pagi Makalisung !

Pagi Makalisung

Suatu kemewahan bagi saya yang setiap harinya bergaul dengan bunyi mesin produksi dan asap hasil pembakaran untuk berada disini, di bibir pantai landai berpasir putih, bertelanjang kaki, dengan pecahan ombak dan pasir bermain diantara jemari dengan latar belakang semburat gradasi warna merah, kuning, oranye memecah dominasi warna biru terang sang langit …

Sepanjang perjalanan, suasa kepulauan sangat terasa. Pagi yang cerah barmandikan matahari pagi, jejeran pohon kelapa di kanan, dan pantai berpasir putih di kiri, tidak salah kalau sekilas saya merasa seperti sedang di hawaii. Blom pernah juga sih sampe sana .. tapi nuansa alam tropis memang sangat kental terasa. Ngga akan kaget kalau tiba-tiba Jack Sparrow dan Black Pearl nya tampak di kejauhan dari sini.

Pantai Kora-kora

Dari pantai kora-kora seharusnya saya mencari jalan berbelok ke kanan menuju ke arah Tondano, tapi keindahan pesisir pantai yang menggoda menyebabkan saya memutuskan untuk terus lurus menuju Belang.

Lambaian Pohon Kelapa

Untuk daerah se-terpencil ini kondisi jalanan bisa dibilang lumayan. Minahasa tenggara sebagai kabupaten baru nampaknya sedang berbenah dengan dipimpin sang ibu bupati. Banyak ruas jalan, termasuk yang menuju Belang ini yang sedang mengalami perbaikan. “Mana tuh bagian yang rusak ? Dengan kondisi jalan sebagus ini sangat mengherankan tidak banyak turis yang datang kesini”, pikir saya. Beberapa ratus meter kemudian jalanan menurun tajam, dan aspal hotmix berhenti sampai di titik itu.

Di depan saya terlihat ada area terbuka yang lebih bisa dibilang bekas jalan karena kondisi permukaannya yang banyak rekahan dan potongan batu sebesar bola basket bertebaran. “Ok, me and my big mouth ..”, gumam saya. Kondisi ini bukan masalah biasanya karena saya bisa mengandalkan google maps untuk mencari jalan alternatif. Dua telco besar provider yang saya gunakan tidak ada signal sampai sejauh ini, jadi benar-benar harus bergantung pada gps-M .. mulut, alias nanya-nanya.

Offroad

“Boleh lewat ini, cuma spanggal. Tiap hari oto ikang lewat sini”, terang seorang pengendara sepeda motor yang dengan tampang keheranan melihat kami disini, sambil berusaha untuk menerangkan kondisi jalan kedepan. Karena pertimbangan tidak tahu juga jalan untuk berbelok menuju Sawangan yang biasanya jadi jalur mobil kembali ke arah Tondano, saya putuskan untuk percaya bahwa bagian jalan yang rusak hanya sepotong, dan setiap hari mobil-mobil pengangkut ikan menggunakan jalan ini untuk menuju Bitung.

Betul hanya sepotong itu bagian jalan yang rusak, selanjutnya .. rusak parah ! 30 menit kedepan menuju Mahembang, desa pertama yang bisa kami temui di jalur ini merupakan perjalanan terlama yang pernah saya jalani. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menyusuri punggung bukit dengan kondisi jalan yang penuh dengan kerikil bekas rontokan dinding bukit. Dibutuhkan kondisi prima untuk berkonsentrasi memilih lajur yang akan diambil, karena meleset sedikit, ban mobil akan tergelincir masuk ke rekahan tanah.

Kurang lebih satu jam dari Mahembang kami tiba di desa Bukit Tinggi yang posisinya di pinggir pantai, dengan kondisi jalan yang lebar dan cukup baik. Satu hal menarik dari semua orang yang saya temui sepanjang perjalanan ini, pertanyaan pertama mereka hanya satu, “Dari mana ?”. Awalnya saya berpikir kaypoh amat orang-orang disini, tapi setelah melihat kondisi jalan seperti yang baru saya alami, pertanyaan mereka lebih sebagai bentuk keheranan, kok bisa-bisanya saya nyasar ke daerah sini.

Bukit Tinggi posisinya di ujung jalan yang artinya saya harus berbalik arah dan belok kanan saat di pertigaan beberapa kilometer yang lalu. “That’s ok, another thrilling experience with narrow and slippery road for another 15 minutes won’t do any harm”, berulang-ulang pikiran ini saya bayangkan untuk mendapatkan penguatan melewati jalur yang tadi.

Kurang lebih 20 menit kemudian, kondisi jalanan membaik dan kami melanjutkan perjalanan di jalan trans Sulawesi menuju arah Belang. Signal telephone mulai menguat dan akhirnya kami memasuki desa Bentenan, disambut wajah-wajah heran masyarakat setempat karena kami muncul dari arah yang tidak biasanya orang muncul. Sekarang saya tahu bagaimana rasanya Indiana Jones saat dia keluar dengan selamat dari jalan-jalan rahasia yang penuh dengan jebakan.

Hamparan Hijau

Kemilau indahnya pesisir pantai Minahasa Tenggara saat ini hanya terhalang oleh akses yang belum cukup memadai. Usaha dari pemerintah setempat untuk memperbaiki jalan kesana, walaupun belum seluruhnya selesai, patut diacungi jempol dan di dukung sepenuhnya demi untuk mengangkat potensi ini ke tingkat nasional bahkan dunia ..

Makalisung, Kora-kora, Mahembang, Bentenan .. hope to see you again in the future, and do shine brighter !

 

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

4 Responses to “Kemilau pesisir pantai Minahasa Tenggara”

  1. Suhada 20 April 2013 - Reply

    Cantiknya alam Indonesia… seperti biasa, ceritanya juga memukau :)

    • wongkar 15 May 2013 - Reply

      terima kasih mas suhada sudah berkunjung .. :)

  2. Danil M 20 April 2013 - Reply

    Mas Joe Wongkar…salam kenal yah…spekology artinya apa yah?

    • wongkar 15 May 2013 - Reply

      salam kenal mas bang danil :D .. spekology hanya kata rekaan saya kok. tidak ada di dalam kamus manapun. artinya kurang lebih .. kira-kira. kalo kira-kira bagus, ya bagus. foto-fotonya juga diambil pake kira-kira, ngga ada ilmu pastinya :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.