Follow Me !
Follow My IG
IMG_3252-1080px

Menyusuri jalanan Tehran

Rasanya saya tidak salah inget. Wanita paruhbaya yang duduk di baris tengah, empat kursi dari tempat saya duduk, saat take off dari Dubai masih berpenampilan yang cukup menor dengan make up tebal dan pakaian yang terlihat sangat fashinable dan tentu saja branded. Kini kurang dari 2 jam kemudian sesaat setelah pilot mengumumkan bahwa kita akan segera mendarat, penampilannya sungguh jauh berbeda dengan mengenakan kerudung berwarna gelap dan pakaian yang serba tertutup rapat. Nampaknya transformasi ini pun terjadi pada semua penumpang wanita di pesawat Boeing 777 yang membawa kami menuju Bandara Internasional Imam Khomeini, Tehran.

 

Tidak punya waktu banyak untuk berlarut-larut dalam keheranan, saya sendiripun harus segera berberes barang-barang saya. Menjelang tengah malam waktu lokal, ucapan selamat datang dari wajah tanpa ekspresi petugas imigrasi Iran menyambut kedatangan saya di negeri para Shah, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

 

Lepas dari imigrasi masih ada 1 pos yang harus saya lewati. Dengan barang bawaan seperti peralatan dan produk untuk pameran, bea cukai biasanya akan sangat tertarik untuk tau apa isi tas saya. 3 tas lolos dan saat bawaan terakhir saya berhasil melewati x-ray tanpa ada gelagat yang aneh perasaan saya cukup lega. Namun hanya bertahan beberapa detik, seorang petugas berjas memberikan isyarat untuk kotak tersebut dibawa ke deretan meja yang terpisah jauh dari mesin x-ray. Usaha saya untuk menjelaskan bahwa kami adalah delegasi Indonesia yang datang untuk pameran tidak membawa hasil. Bahkan surat keterangan dari kedubes RI untuk Iran pun tidak ditengok. Mungkin juga karena tidak mengerti bahasa Inggris. Selama pemerikasaan saya hanya mengerti dua kata yang diucapkan petugas tersebut. Okay dan thank you sebagai jawaban dari ucapan terima kasih saya setelah mendapat isyarat dengan jempol terangkat yang secara bebas saya terjemahkan sudah boleh packing kembali dan melanjutkan perjalanan. Tehran .. kami datang ..

 

airport_6D-2819-1080px

Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menginjakkan kaki di Iran yang selama ini hanya saya baca di koran karena perang besar dengan tetangganya Irak dan embargo dunia karena program nuklir yang mereka rencanakan untuk dibangun. Dalam bayangan saya suasana kota yang suram dan hancur bekas perang tentu akan mendominasi pemandangan. “Welcome to Tehran, and we will be travelling with this bus for approximately 1 to 1.5 hour to reach your hotel. Hopefully the traffic is already okay”, terdengar penjelasan dari Human yang akan menjadi tour guide kami sepanjang satu minggu mendatang. Yep … namanya memang Human, bukan sekedar istilah karena saya tidak bisa mengeja namanya.

 

iran-road_6D-3365-1080px

“Negara kaya ..”, bathin saya saat bus sedang melaju di jalan bebas hambatn menuju Tehran. Lampu jalanan berjejer rapih setiap kurang lebih 20 meter, dengan empat lampu yang menyorot terang di pucuknya. Sungguh berbeda dengan kondisi jalanan di Indonesia bahkan di Jakarta yang penghematan besar-besaran harus dilakukan agar listrik bisa digunakan untuk kepentingan lain. “Penghasil minyak gitu loh ..”. “Tapi kan kita juga penghasil minyak, kok masih kesulitan juga?”, bergantian tanya jawab virtual ini berkecamuk sepanjang perjalanan, antara bisa dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa negara yang dalam pemikiran saya sangat terbelakang ini, mungkin malah lebih maju dari Indonesia.

 

Pagi pertama di Tehran hal pertama yang saya lakukan setelah sarapan adalah stand by di luar lobby hotel sambil mengamati orang yang lalu lalang. Seharusnya bisa lebih pagi, tapi suhu yang 11 derajat walaupun bisa dikategorikan sejuk, tetap saja cukup dingin untuk menahan saya berlama-lama dibalik selimut. Hari minggu menurut kalender saya, namun di Iran sebagaimana negara-negara tetangganya memperlakukan hari minggu sebagai hari kerja biasa, dan libur akhir pekan di hari Jumat.

 

IMG_2906-1080px

Dalam hal berpakaian ternyata masih cukup fashionable walaupun tentu saja jauh dari trend K-pop dan J-pop yang melanda Indonesia. Cenderung lebih seperti old-fashioned European style. Buat penduduk lokal berpakaian adalah pilihan pribadi. Ada yang suka dengan pakaian bergaya modern, ada juga yang suka dengan yang serba tertutup. Untuk wanita, kerudung adalah atribut yang wajib dikenakan baik oleh penduduk lokal maupun pendatang. Tidak dibatasi oleh satu jenis kerudung, apapun bentuknya  mulai dari selendang yang hanya disampirkan menutupi kepala dan sebagian rambut sampai dengan cadar yang menutupi separuh wajah diperbolehkan untuk digunakan di tempat umum.

 

lady-crossing_6D-3150-1080px

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa traffic di Jakarta adalah salah satu yang terparah di seluruh dunia. Ada masanya Bangkok menjadi saingan utama Jakarta dalam urusan traffic jam, walaupun sekarang konon mereka sudah jauh lebih baik dari Jakarta. Di tengah kepadatan lalu lintas Tehran tiba-tiba saya merasa kemacetan di jalan tol dalam kota ternyata masih cukup lumayan untuk bisa dinikmati. Badan jalan yang sejatinya terbagi 4 lajur sangat umum dipenuhi oleh 6 lajur kendaraan yang didominasi oleh merk lokal merk Eropa dan Korea. Tidak mengherankan, karena sejak embargo diberlakukan fasilitas assembly kendaraan ditinggalkan oleh pabrikan besar dalam kondisi ready for operation. Dengan minyak yang berkelimpahan, sumber daya manusia yang gigih, fasilitas siap digunakan, embargo tidaklah terasa untuk industri mobil di negara ini.

 

crowded-car_6D-2967-1080px

“Thats how they start dating”, bisik Human yang melihat saya terheran-heran pada sekelompok anak muda yang terlihat baru saling kenal di pinggir jalan dan kemudian melanjutkan perjalanan bersama-sama layaknya sudah kenal lama. Jauh dari bayangan saya bahwa Iran menerapkan hukum agama yang cukup ketat dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Benar hukum dan aturan yang diberlakukan cukup ketat, namun pada pelaksanaannya kontrol yang kurang dari pemerintah menyebabkan diantara anggota masyarakatpun menjadi permisif terhadap pelanggaran yang dilakukan orang lain. “In Iran, everything is illegal that we are now used to be doing illegal things everyday”, cetus Bahare, translator yang kami gunakan jasanya selama pameran berlangsung, sambil tertawa lepas dengan ironi yang muncul tersebut.

 

Namun untuk saya, sikap permisif ┬átersebut menjadikan mereka menjadi lebih mirip dengan budaya yang dianut di Indonesia. Setidaknya dalam hal pergaulan sehari-hari. Dingin dan kaku nya peraturan tidak akan membekukan kehangatan nilai-nilai hubungan antara manusia. Tiba-tiba tangan saya terasa dingin, dan buru-buru mencari hotspot untuk menelpon. How I love technology. Selisih 3.5 jam artinya pagi disini sama dengan subuh di su-atu tempat disana. Perfect timing …

 

couple_6D-2894-1080px

Satu minggu di Tehran berlalu dengan cepat dan sangat membuka mata. Pengalaman yang benar-benar baru baik dari bahasa, kebiasaan, makanan, sampai dengan pemandangan. Noraknya penduduk kepulauan tropis, tidak pernah melihat gunung beratapkan salju, apalagi posisinya dibelakang rumah. Dan ini pertama kali saya lihat di Iran, yang selama ini saya bayangkan kemana-mana ketemu gurun pasir.

 

alborz_6D-13396

Pastinya akan menyenangkan untuk kembali ke Iran. Masih banyak tempat yang perlu dikunjungi selain Tehran. Isfahan, Persepolis, Laut Caspia hanyalah beberapa tempat dari sekian banyak tempat yang konon akan jauh lebih menarik jika dikunjungi tidak sendirian. Dan mudah-mudahan bisa mengumpulkan beberapa foto yang layak untuk masuk 2 album khusus yang jadi target itu …

 

Ah .. really miss home now …

 

Tags:
, ,

1 Comment

Post a Comment