Follow Me !
Follow My IG
madura-sembilangan_6D-7394

Mercu suar Sembilangan, alternatif tempat wisata di Surabaya

Mendengar kata Madura yang pertama terlintas di benak saya adalah … sate. Mungkin sudah alaminya walaupun bukan tipe kulinarian, tapi makanan adalah hal yang paling gampang diasosiasikan dengan suatu lokasi tertentu. Kemudian terbayang karapan. Balapan roda sapi yang selama ini menjadi daya tarik utama wisata ke pulau Madura. Demi alasan yang lebih akademis akan terbayang pulau penghasil garam terbesar di Indonesia. Dan sekian lah cerita tentang Madura. Tidak ada lagi yang bisa diceritakan tentang pulau ini. Setidaknya itu pemikiran saya sebelum menginjakkan kaki pertama kali di pulau Madura.

 

Baru beberapa bulan yang lalu saya menginjakkan kaki pertama kalinya di pulau sebelah utara Surabaya ini. Kala itu Jembatan suramadu yang menjadi pintu gerbangnya berdiri gagah menyambut pengguna jembatan yang akan menuju dan kembali dari pulau Madura. Saat ini pun kemegahan suramadu masih tetap mengagumkan. Dari sekian banyak tempat wisata di Surabaya, saya masih penasaran dengan Madura dengan berbagai potensi wisatanya.

 

Pemandangan khas di ujung jembatan saat memasuki madura adalah kios penjual souvenir dan makanan yang berjejeran di tepi kiri dan kanan jalan sepanjang kurang lebih 300 meter. Lajur khusus sudah disiapkan untuk siapapun yang ingin mampir sekedar beristirahat ataupun belanja, tanpa kuatir mengganggu pengguna jalan lain yang ingin langsung menuju ke berbagai kota kabupaten di madura.

 

Bangkalan adalah satu kabupaten di madura yang harusnya cukup akrab dengan penonton film si unyil  versi lama. Yap, mbok bariah konon asalnya dari Bangkalan. Untuk mencapai bangkalan cukup mudah karena setelah keluar dari jalan terusan suramadu, bangkalan adalah satu-satunya kabupaten yang terletak di sisi kiri/barat pulau madura. 3 kabupaten lain seperti Sumenep,Sampang, dan Pamekasan ada di bagian sisi kanan/timur pulau madura. Jaraknya pun relatif dekat dari Suramadu. Kurang dari 20 km yang bisa ditempuh dalam 15 menit dengan kecepatan sedang.

 

Sepanjang jalan menuju pusat kota Bangkalan, banyak berjejer pengrajin batik tulis khas madura. Dibandingkan dengan batik lain dari pulau Jawa, batik tulis madura lebih berani dalam nuansa warna. Cukup menarik melihat kain batik cerah berwarna warni yang digantung berkibaran sepanjang jalan.

 

Kalau dulu madura identik dengan sate, saat ini sudah ada primadona baru yang bisa ditemui dimana saja. Bebek. Berbagai macam restoran dengan nama dan metode masakan masing-masing yang unik bertebaran di sisi kiri dan kanan jalan menuju ke Bangkalan.  Salah satu yang paling terkenal adalah Bebek Sinjay. Sayangnya kami urung mampir melihat antrian pengunjung yang cukup panjang menanti giliran dilayani. Buat saya, seenak apapun makanan, waktu tunggunya tidak layak lebih dari 10 menit .. Lebih dari itu, masih banyak tempat lain :D

 

Perjalanan mencari mercu suar sembilangan ini ternyata cukup merepotkan. Beberapa bulan yang lalu saya tidak terlalu memperhatikan jalan karena ada supir. Masalahnya adalah di kalangan masyarakat madura, mereka tidak mengenal istilah mercu suar. Belakangan saya tahu mereka lebih mengenal istilah ‘lampu’ daripada mercu suar. Jadi seharusnya ditanyakan .. lampu sembilangan dimana pak ? Mungkin akan ada yang tau tempatnya…

 

Dari berbagai referensi dan sisa-sisa ingatan saya memutuskan untuk mulai dari alun-alun Bangkalan, menuju ke arah barat dan langsung berbelok kiri ke selatan menyusuri jalan utama yang menuju Kamal. Kamal adalah pelabuhan tempat penyebrangan dari Madura menuju Surabaya. Jalan utama ini adalah Jl KH Kholil dan belum jauh dari alun-alun, setelah melewati RS Lukas (sebelah kanan jalan) akan ada papan penunjuk arah untuk belok kanan saat di lampu merah, menuju Mercu Suar Sembilangan.

 

Sebelumnya, beberapa kali berhenti bertanya namun tidak ada yang tau mercu suar itu dimana. Belakangan saya tahu untuk mudahnya bisa  bisa bertanya arah menuju makam atau pondok pesantren KH Kholil. Tempatnya cukup bisa dikenali dengan bangunan masjid yang megah. Dari makam KH Kholil masih harus melanjutkan perjalanan kurang lebih 10-15 menit, dan saat pemandangan laut mulai terlihat dan ada docking untuk perbaikan kapal sudah kita lewati, pucuk mercu suar sembilangan menyembul diantara pucuk pepohonan.

 

mercu suar sembilangan tempat wisata di surabaya

Mercu suar ini walaupun sudah berumur lebih dari 100 tahun, tapi masih berfungsi dan digunakan sebagai pemandu kapal-kapal yang akan merapat ke Surabaya. Konon pada masa pembangunannya, ada 3 mercu suar yang dibangun identik dan secara bersamaan. Mercu suar Anyer, Sembilangan, dan satunya lagi di Pulau Biawak, Indramayu.

 

Bentuk bangunan, bahan yang digunakan, desain dan segala detilnyasama persis dengan mercu suar Anyer. Hal ini menimbulkan rasa penasaran untuk  mengunjungi mercu suar ketiga yang di Indramayu.

 

tempat wisata di surabaya

Memasuki area mercu suar, seorang ibu melambaikan tangan menghentikan mobil. Disebelahnya ada papan seadanya bertuliskan Rp 3000 untuk mobil dan Rp 1000 untuk motor. Tidak ada biaya tambahan untuk penumpang, dan saya juga tidak berharap akan ada tiket resmi. Anggaplah ini sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar mercu suar yang  turut menjaga kelestarian lingkungan mercu suar ini.

 

Kompleks mercu suarnya sendiri dibatasi tembok pembatas dari pemukiman masyarakat. Tidak ada biaya resmi untuk masuk dan naik sampai ke puncak mercu suar, tapi pengunjung akan dimintai sumbangan seikhlasnya oleh para penjaga yang tinggal dilingkungan mercu suar ini.

 

Di luar kompleks ada beberapa kios makanan dan minuman yang dikelola warga.  Rujak madura berbumbu petis cukup terkenal, kelihatannya cukup menggoda. Sayangnya saya sedang flu dan segala macam sensor perasa di sekitar mulut dan hidung tidak berfungsi dengan baik. Tindakan paling bijaksana adalah tidak mencoba sesuatu yang aneh-aneh untuk mencegah kondisi yang lebih buruk. Tapi rujaknya terlihat cukup menggoda lho ..

 

rujak madura tempat wisata di surabaya

 

tempat wisata di surabaya

Sayangnya pantai di sekeliling mercu suar bukanlah tipe pantai berpasir yang bisa menjadi tempat bermain dan berlari-lari untuk anak-anak. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan selain naik ke puncak mercu suar adalah duduk-duduk di bawah pohon sambil menikmati pemandangan laut dan kapal yang lalu lalang.

 

Tidak banyak lagi yang bisa dilakukan di mercu suar sembilangan, namun setidaknya rasa penasaran saya dengan seri mercu suar yang dibangun pada masa Willem III sudah terjawab. Tempat ini cukup layak sebagai alternatif tempat wisata di Surabaya yang cukup mudah untuk dijangkau.

 

Untuk pulang pilihannya bisa meneruskan menyusuri jalan awal kedatangan ke mercu suar, sampai ke pelabuhan Kamal. Jaraknya tidak begitu jauh. Atau bisa kembali menuju ke alun-alun Bangkalan dan menyeberang ke Surabaya melintasi Jembatan Suramadu.

 

See you soon Madura !

 

1 Comment

Post a Comment