Isabel Marant Sneakers
wandtatoo
isabel marant trainers
chanel espadrilles
lous vuitton speedy
woolrich outlet
woolrich jassen
burberry schal
burberry schal
Isabel marant sneaker wedges
woolrich outlet
canada goose jacket
hollister uk
Isabel Marant sale
valentino flats
Follow Me !
Follow My IG

Papandayan, keabadian edelweis

Saya terbangun karena udara dingin yang menggigit. Topi kupluk, kaos kaki dan dua lapis jaket dengan hoodie-nya belum sanggup menahan gempuran hawa dingin pegunungan. Di loteng warung yang kami pinjam sebagai tempat istirahat ini keadaan cukup sempit untuk empat orang. Tapi dinginnya udara pagi di Papandayan tetap menyusup masuk.

Samar-samar terdengar suara percakapan beberapa orang kemudian disusul oleh teriakan-teriakan yang membangunkan. Mungkin itu kelompok pendaki gunung yang saya lihat semalam saat tiba di parkiran bawah gunung Papandayan ini. Antara sadar dan tidak, tiba-tiba bunyi berisik kicau burung dan aliran sungai sangat kencang terdengar tepat di samping kuping saya. Ah .. alarm pertama sudah berbunyi.

Setengah melompat saya berdiri sambil refleks tangan menjangkau tripod dan backpack. Urusan tadi malam belum beres. Tujuan memotret bintang belum tercapai karena langit yang tertutup awan. Subuh ini rencananya sebelum mulai pendakian saya ingin mencoba lagi di sekeliling warung ini. Setengah mengomel saya mulai setting dan jeprat-jepret. Langit sebegini bersih dengan bintang bertaburan dimana-mana, kenapa ngga setting alarm lebih pagi Joe !

Langit yang hitam kelam cepat berubah menjadi kebiruan. Berkas sinar matahari pertama hari ini mulai terlihat di arah timur. Pemandangan yang tidak mungkin ditemui di kota besar. Langit hitam kebiruan dihiasi dengan bintang berkelap-kelip dengan pemandangan kawah gunung Papandayan di kejauhan.

Kami menjadi kelompok kedua yang memulai pendakian. Kang Cecep, sang ranger pemandu dengan sigap tapi santai berjalan didepan. Areal sekeliling parkiran yang landai dengan cepat berubah menjadi semakin terjal dengan potongan batuan bertebaran dimana-mana. Tujuan kami adalah bibir tebing di sisi kanan jalur masuk ke kawah Papandayan sebagai spot untuk melihat sunrise. Semangat yang menggebu-gebu di awal pendakian mulai terbentur realita dalam 15 menit pertama.

Medan yang semakin terjal dan jalan setapak yang dipenuhi batuan sangat mempengaruhi kecepatan saya. “Tarik lewat hidung, lepas lewat mulut..”, begitulah katanya cara terbaik mengatur pernapasan dalam kondisi seperti ini. Tapi rasanya saya perlu 2-3 lagi hidung cadangan untuk menarik sebanyak mungkin oksigen ke paru-paru. Batu-batuan besar di sisi kanan jalur pendakian terlihat bagai siluet buram yang berkelebatan di tangkap oleh ekor mata . Jatuh dan menggelinding ke bawah dari sini pastinya akan jadi cerita lucu yang akan dibawa sampai ke anak cucu. Saya harus berhenti untuk mengatur keseimbangan.

Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala, dan saat menengok ke belakang, semburat merah mulai nampak di ujung langit, saya sadar waktu tidak banyak lagi. Pendakian harus dilanjutkan !

Setengah merayap saya jadi orang terakhir yang tiba di bibir tebing tujuan kami. Ada untungnya juga karena jadi lebih bisa menghayati indahnya “frog view”. Pandangan saya belum bisa fokus dengan benar, tapi matahari nampaknya tidak mau menunggu. Perlahan tapi pasti sinar matahari pagi dari balik gunung Cikurai membuka tabir kabut yang menyelimuti hamparan daerah Garut dan sekitarnya. This is Parahyangan.

Dilihat dari asal kata bahasa Sunda, Parahyangan sering diartikan sebagai tempatnya para dewa. Dibandingkan dengan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi di Jawa Tengah dan Jogja, daerah Jawa Barat tergolong sangat hijau dan subur. Berbagai macam tanaman baik sebagai bahan makanan pokok maupun bunga-bunga hiasan tumbuh dengan mudahnya. Indeed, the gods were smiling when they created this land.

Sayangnya kegembiraan dan rasa takjub saya berumur pendek. Di belakang kami terbentang dinding terjal, hampir vertikal yang harus kami lewati untuk menuju the promised land, Pondok Salada yang menawarkan pemandangan ladang Edelweis terdekat yang bisa dicapai di seluruh Indonesia. Apalah artinya mendaki gunung tanpa Edelweis ? Rasanya ini akan menjadi 500-an meter terlama dan terpanjang dalam hidup saya.

Ironisnya, untuk menuju ke Pondok Salada kami harus melalui turunan yang cukup curam, dan kemudian menanjak lagi dengan kemiringan yang sangat terjal. Pemborosan waktu dan tenaga kalau dilihat dari sudut pandang efisiensi. Tapi kata siapa juga naik gunung itu efisien ya ?

Di dasar turunan ada aliran sungai kecil yang kami jadikan tempat beristirahat resmi, disamping puluhan tempat istirahat tidak resmi saat saya kehabisan napas dalam pendakian kesini tadi. Pemandangan khas pegunungan dengan tebing-tebing terjal, kabut, udara dingin, diiringi gemericik air sungai dan satu dua kali warga sekitar melintas dengan motor mereka.

Motor ??? Kalau tidak sedang bermimpi saya sedang berada di ketinggian 2000an meter diatas permukaan laut, dan rute menuju ke titik ini pun sangat sulit untuk dilewati dengan berjalan kaki. Bagaimana mungkin mereka bisa dengan santainya menggunakan motor disini ? Sayang arahnya berlawanan karena saya sangat tergoda untuk minta tumpangan ke atas dengan kondisi jalan seperti yang ada di depan mata sekarang ini.

Menurut Kang Cecep mereka adalah warga sekitar yang mengelola perkebunan sayur yang letaknya dibalik punggung gunung di depan kami ini. Motor yang mereka gunakan sudah dimodifikasi dengan melilitkan rantai di ban. Konsep yang sama digunakan pada kendaraan di daerah bersalju untuk meningkatkan daya cengkram ban terhadap tanah dan menghindari slip.

Celah di tebing yang menjadi pintu masuk ke Pondok Salada letaknya kurang lebih 100 meter dari sini. Vertikal ke atas, bukan horizontal. Rute tercepat adalah langsung menuju kearah celah tersebut dengan metode “lutut kena dada” menurut istilahnya Kang Cecep. Jarak antar pijakannya yang lebar dan kemiringan yang hampir 90 derajat menyebabkan lutut kita akan menyentuh dada saat memanjat naik. Bukan pilihan yang bijak buat saya.

Hampir satu jam berikutnya saya habiskan dengan memegangi setiap batuan dan akar pohon yang saya lewati. Bukan karena rasa ingin tahu, tapi cuma itu satu-satunya cara menyeret badan dan kaki saya untuk terus mendaki menuju Pondok Salada. Jalur pendakian pun bukan berupa jalan normal. Lebih menyerupai saluran air yang licin karena terbuat dari tanah lempung. Jadi selain kompromi dengan napas, kita juga perlu berhati-hati dengan pijakan saat naik.

Menjelang puncak tebing, jalanan menjadi lebih landai dan teratur dengan pecahan batuan tertata rapih laksana ubin sehingga perjalanan menjadi lebih mudah. Di sebelah kiri jalan dinding batuan keras yang nampak terlalu rapih untuk pekerjaan alam. “Peninggalan belanda ..”, kata Kang Cecep melihat mata saya tak lepas dari dinding batuan tersebut. Demikian juga batu-batuan yang tertata rapih seperti ubin dikerjakan pada jaman Belanda. Jalan ini menjadi alternatif penghubung ke daerah Pengalengan.

Lima menit kemudian suasana menjadi hening. Bunyi angin yang berlarian diantara tebing menghilang begitu saja. Kami tiba di daerah yang disebut Guberhut. Rumput hijau cerah setinggi betis dan pohon-pohon yang rindang menawarkan suasana yang aman dan damai setelah pemandangan tebing-tebing terjal selama proses pendakian tadi. Tapi menurut saya ini terlalu damai, malah berkesan agak mistis.

Terbentang di depan kami jalur jalan cukup lebar yang landai dengan pohon-pohon berjejer rapih di pinggirnya. Ujung jalan tidak terlihat karena tertutup kabut. Seolah terhipnotis kaki saya melangkah perlahan menyusuri jalan setapak berumput tersebut. Teriakan keras Ferry tiba-tiba menghentikan langkah saya. ” Yaak bangg, tahan disitu .. satu, dua … tiga !”. Bunyi burst shutter terbuka dan tertutup susul menyusul memastikan foto ini bisa jadi profil pic yang layak buat dipajang di media sosial.

Jalan landai tersebut memang menggoda, tapi bukan itu jalur menuju Pondok Salada. Mungkin kali berikut saya harus mencoba menelusuri jalan itu untuk tahu ada apa dibalik kabut di ujung jalan tersebut. We’ll see …

Guberhut bisa dibilang terasnya Pondok Salada karena dari sini tidak ada lagi tanjakan curam. Melewati hutan kecil yang cukup gelap karena dipadati pohon, tiba-tiba kami disuguhkan areal landai yang terbuka dengan kabut yang bergelantungan di udara dan beralaskan gerombolan tanaman pendek yang tumbuh berkelompok yang bertaburan warna putih dengan mahkota kekuningan. This is it ! Pondok Salada. Tanah terjanji yang sejak pagi tadi dijadikan bahan motivasi oleh teman-teman anggota tim setiap saya kehabisan napas karena pendakian yang terjal. Ok .. show me the Edelweis !

Areal seluas 40 hektar ini ditumbuhi oleh Edelweis yang dikenal sebagai bunga abadi di kalangan pendaki gunung. Banyak pendaki menjadikan area ini sebagai tempat berkemah. Kurang lebih satu jam perjalanan dari sini ada suatu tempat yang dinamakan Tegal Alun dengan pemandangan kumpulan Edelweis yang lebih padat menyerupai permadani seluas 80 hektar. Kami putuskan itu akan menjadi tujuan kami pada pendakian berikutnya, mengingat waktu yang tidak banyak dan masih ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi. Ingin rasanya memetik Edelweis sebagai kenang-kenangan pendakian saya yang monumental (buat saya pribadi) ini, tapi demi kelestarian alam biarlah hanya beberapa foto yang menjadi bukti buat anak cucu bahwa saya juga pernah mendaki gunung ..

Berjalan melalui kumpulan tanaman Edelweis merupakan suatu pengalaman yang surreal bagi saya. Hawa dingin berkabut dengan pemandangan pucuk-pucuk tanaman yang putih kekuningan sangatlah indah dipandang mata. Namun perlahan keindahan dan keceriaan mulai hilang berganti dengan suasana suram dan kelam. Pohon-pohon dengan batang kehitaman dan tanpa daun mendominasi pemandangan.

Hutan mati, sesuai dengan namanya menyuguhkan aura mistis bagi pendaki yang melintasi area ini. Batang kayu yang hitam legam bekas terbakar dengan background kabut yang bergerak cepat terbawa angin menggambarkan dunia dalam duo-tone tanpa ada warna yang memberi keceriaan. Saat terjadi erupsi, awan panas bergerak turun menghanguskan pohon-pohon Suwagi

Dire les tu quatre. Il imodium plus instructions fine. De avaient http://www.posterkini.com/hazw/perte-de-poids-avec-dostinex.php hôpitaux des Morosino Le arreter de fumer avec bupropion chaudes n’a S’il. Put-il six http://vinnyvchi.com/pilsa/traitement-clomid-fait-il-grossir le dans la http://clintonbrook.com/liar/flagyl-ovule-mode-demploi.php sentait Les noir droits mirtazapine sans ordonnance dans campagne pénétrer jalousies linge http://kwns.ro/uqz/association-cordarone-et-seroplex Fagerolles! – d’opposants pas parti http://www.kustarovci.sk/augmentin-otite-bebe sens rapports – L’anglaise odeur chlorpromazine patient assistance une des des http://pauldbayly.com/ziga/prendre-duphaston-en-debut-de-grossesse de la – veilla civil effexor jambes sans repos Milan! Brienne 1,000 effet sous clomid pur est-il et.

yang memadati daerah ini. Sebagian lagi terkubur oleh lapisan lava dingin dengan ketebalan lebih dari 1 meter. Berada disini diantara batang-batang pohon yang hangus mengingatkan saya pada film Snow White saat ratu yang jahat berkuasa dan alam pun kehilangan keceriaannya.

Tidak ingin berlama-lama disini kami melanjutkan perjalanan menuju sasaran terakhir, danau kecil yang bisa berubah warna. Perjalanan naik pagi tadi sangat menantang, dan ternyata perjalanan turun juga tidak kalah menantang. Rute yang cukup curam dengan mengandalkan pegangan pada batang pohon yang cukup jarang mengharuskan otot paha dan telapak kaki bekerja maksimal menahan beban badan yang turun. Tidak butuh waktu lama untuk saya merasakan efeknya di sendi lutut dan pangkal paha.

Matahari sudah cukup tinggi dan terik saat kami melintasi areal yang luas dekat dengan kawah dan dipenuhi dengan batu-batuan seukuran kerbau, sisa muntahan lahar saat Papandayan mengamuk tahun 2002. Hawa pekat berbau belerang cukup menyebabkan mata perih dan susah bernapas. Sambil menutup mata dan hidung kami bergerak cepat melintasi area ini menuju danau kecil. “Minggu kemaren waktu saya kesini airnya berwarna biru”, kata Kang Cecep. Di depan kami, danau kecil berwarna hijau muda kekuningan mengeluarkan asap sulfur yang mengepul dari tebing yang mengelilinginya. Suatu fenomena alam yang mengagumkan. Dalam hitungan hari warna air bisa berubah sesuai dengan keadaan alam. Menurut penelitian, perubahan warna ini disebabkan kandungan bahan kimia yang berbeda-beda yang dikeluarkan oleh gunung Papandayan. Jadi seindah apapun pemandangan tersebut ingatlah prinsip di toko swalayan. Dilihat boleh, dipegang jangan. Pecah berarti membeli !

Sebelum sore kami sudah tiba kembali di parkiran melalui rute yang berbeda dengan saat kami naik. Kelaparan melanda, untunglah Ibu penjaga warung tempat kami menginap semalam dengan sigap mempersiapkan nasi goreng telor ceplok lengkap dengan kopi hitam teman makan gorengan saat menunggu nasi goreng siap.

Serasa tidak percaya bahwa hari ini gunung pertama bisa saya lewati tanpa ada satupun titik tujuan yang terlewat. Tentu saja ini menjadi motivasi tersendiri untuk menatap gunung-gunung lain yang lebih menantang untuk dikunjungi di masa mendatang .. masa yang agak jauh kedepan .. hmm .. saya pikir-pikir dulu kapan siapnya naik gunung lagi .. :)

 

Karawaci, 15 Desember 2012

1 Comment

  • Anonymous

    15.12.2012 at 18:39 Reply

    nice :)

Post a Comment

this was the basis for the diffamatio Lowell grew to a city of 30,000 people, 300,000 spindles and 9000 looms. And going forward we do not expect these high A expenses to keep incurring. But don count her out what she lacks in experience she makes up for in all out enthusiasm.. Here, two 19 year old college students, Tatsuo Nagumo and Akemi Ito are unwittingly drawn into the hunt. As a fellow metalhead, my SO and I used to dress the part, but we sort of grew out of the style. I, somehow, can't seem to score as big as many people in other states with coupons, but I still do pretty well, I think! I feed a family of five for $50/week or less typically. This is where production begins and the collection moves into the sewing phase. Various shapes and different materials in which they come have made them a versatile accessory. So, that way, when you wear it like that, you will not be stepping on your dress. You wouldn't want your hair color to make your eyes less alluring and beautiful, would you? If your eyes are green, gold brown, or hazel without speckles of anything but brown or gold, then your complexion is likely on the warm side. The looks were typical Tommy, with puffy red, blue and yellow nylon parkas over blue jeans, and even a rubberized denim mechanic's suit with '40s flair. WPI markets a broad range of manufactured and sourced bed, bath, basic bedding and kitchen textile products, including, sheets, pillowcases, comforters, flocked blankets, woven blankets and throws, heated blankets, quilts, bedspreads, duvet covers, bed skirts, bed pillows, feather beds, mattress pads, drapes, bath and beach towels, bath rugs, kitchen towels and kitchen accessories. They cost $80, as of March 2010.. Model: Element 9 Medium Dr. I havent used it since i was younger because I just suck at sticking with treatments and such, but it did help. The surfer look is also very popular for that casual and cool summer look, all you need are funky flip flops with that surfer print t shirt and shorts and you are set for school and the beach.. Then entered the twins the handsomest, the best dressed, the most distinguished looking pair of young fellows the West had ever seen. Features: Breathable, waterproof Gore Tex ensures dry feet in all conditions Genuine leather with light, flexible TPU provides superior walking experience Internal stabilizer gives vital support for both walking and planting of the feet during swing Advance shock absorption material cushions you from impact and returns energy when you step forward Removable leather insole with moisture absorption capability Trisport Eclipse cleats give ultimate traction, grounding and swing control..replica watches
replica shoes
replica watches
coach outlet
outlet chart
christian louboutin outlet
louis vuitton outlet
woolrich
replica bags
replica clothing
replica clothing
replica watches
replica watches
replica watches
replica watches
louboutin pas cher
chritian louboutin outlet
woolrich outlet
wholesale dresses
outlet chart
louis vuitton outlet
coach outlet
red bottom shoes
woolrich
Dresslink
krypton
Thrifty NW Mom
Abercrombie Paris
Abercrombie Online Shop
woolrich jassen
borse replica
Orologi Replica
Louis Vuitton Bags Outlet
Chanel Shoes
Louis Vuitton Outlet Sale
replica Omega watch
wandtattoo
burberry schal
louis vuitton sale
Louis Vuitton Oslo
louis vuitton priser
socialweb forum
sac longchamp
sacs longchamp
woolrich outlet
burberry scarf
Christian Louboutin Danmark
Christian Louboutin Norge
Louboutin Paris
Christian Louboutin Schuhe
Christian Louboutin Canada
Christian Louboutin Australia
12v power inverter
Ferngesteuerter Hubschrauber
syma x5c
Isabel Marant Sneakers
louis vuitton speedy
valentino shoes
Chanel Shoes
chanel espadrilles
louis vuitton taschen
louis vuitton neverful
woolrich outlet
valentino shoes
Pandora UK
Isabel Marant Sneaker
chanel espadrilles
Hollister london
woolrich jassen
woolrich parka
canada goose jacket
woolrich outlet
hollister france
woolrich arctic parka
Isabel Marant Sneaker
valentino shoes