Follow Me !
Follow My IG
morning-rancabuaya_40D-5667

Ranca buaya, eksotisme terpendam pantai selatan

“Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaibnya hidup ini. Mencari-cari tambatan hati ..”, lembut alunan suara Maudy Ayunda terdengar dari siaran radio yang sebentar hidup dan sebentar mati saat  mobil kami berkelok-kelok di jalanan yang membelah perkebunan teh daerah Cisompet, kabupaten Garut, Jawa Barat.

 Pagi yang dingin berselimut kabut menemani iring-iringan konvoy 4 mobil kami yang belum lama berselang berhenti sejenak mengabadikan keindahan matahari pagi dari balik punggung Gunung Cikurai. Penat perjalanan semalaman selama hampir 8 jam termasuk 2 kali istirahat di rest area tol cikampek dan purbaleunyi, terbayar lunas dengan segarnya suasana pagi di daerah Cikajang, yang merupakan kota kecamatan terakhir sebelum memasuki perkebunan teh Cisompet.

Ini kunjungan saya yang kedua dalam waktu kurang dari 3 bulan. Bukan karena nama Garut yang belakangan ini sering muncul di media karena sang bupati yang kontroversial, tapi karena penasaran dengan pesona keindahan alam di daerah selatan Garut yang konon menawarkan pemandangan pantai laut selatan yang masih sangat alami.

 “Saya terinspirasi untuk main ke Garut selatan dari film ini lho bang ..”, celetuk Ferry diantara kresek storing radio dan samar-samar lagu ost film perahu kertas tersebut membangunkan saya dari alam pikiran sendiri yang sedang menikmati hijaunya gelombang dedaunan pohon teh dengan latar belakang lapisan demi lapisan punggung gunung yang diselingi kabut. “Ha ? jadi kita organize acara jalan-jalan buat 15-an orang ini buat nemenin kamu nyari pantai yang konon paling indah se-Indonesia menurut film itu ? Better be good deh pantainya ya. Nama kamu dah dicatet di goloknya bang Steve tuh kalo sampai pantainya ternyata biasa-biasa aja.”, sambung saya sambil terus berzig-zag menghindari lubang-lubang besar dan kecil yang bertebaran di sepanjang jalan sempit yang meliuk-liuk di punggung gunung tersebut.

ranca buaya

Kurang lebih 20 km kami harus menikmati perjalanan bernuansa roller coaster ini karena selain tanjakan dan turunan yang curam dengan belokan yang hampir 180 derajat, jurang di sisi kiri jalan juga turut menambah serunya perjalanan ini. Untunglah saya menuruti saran dari beberapa orang yang menganjurkan perjalanan siang dari Garut menuju Pameungpeuk, sebuah kota kecil di pesisir pantai selatan yang berjarak sekitar 100km dari kota Garut. Ranca buaya sendiri masih harus nambah 30km lagi dari Pameungpeuk menuju ke arah barat.

Selepas Cisompet, keadaan jalan menjadi lebih baik dengan aspal yang mulus sejauh kurang lebih 30km sampai di pusat kota Pameungpeuk, walaupun sempitnya jalan, tikungan tajam dan curamnya turunan masih tetap sama dengan daerah sebelum ini. Pemandangan yang ditawarkan pun sedikit berbeda dengan di dominasi oleh sungai dan hamparan sawah menguning dibandingkan dengan hijaunya hutan pinus beberapa saat sebelumnya.

Menjelang jam makan siang konvoy kami memasuki Pameungpeuk. Not bad, dengan perjalanan santai sambil berhenti disana sini untuk foto dan diselingi makan pagi, 6 jam dihabiskan dalam perjalanan. Mengingat ini kota terakhir sebelum Rancabuaya, kami memutuskan untuk re-stock persediaan makanan ringan. Rencana awal adalah mengecek penginapan yang layak di Pameungpeuk yang bisa dijadikan basecamp, kemudian scouting lokasi pantai yang menarik untuk sunset sore nanti sambil menuju arah Rancabuaya. Tidak ada dari anggota perjalanan kami yang benar-benar tahu Rancabuaya dan apa yang ditawarkannya. Benar-benar hanya antara Ferry dan film Perahu Kertas yang menjadi benang merah kelompok kami sekarang dengan lokasi pantai selatan yang berjarak 180km dari Bandung itu.

ranca buaya

Berbicara tentang wisata pantai di Pameungpeuk tidak akan lepas dari Pantai Santolo dan Pantai Sayangheulang. Kedua pantai landai berpasir putih ini letaknya berdekatan dan menawarkan panorama ombak besar khas pantai selatan pulau Jawa. Lokasinya yang bisa dicapai dalam 5 menit dari Pameungpeuk menjadikan kedua pantai ini tujuan utama saat berwisata ke Pameungpeuk. Banyak terdapat penginapan kelas losmen dan hotel melati untuk pengunjung yang ingin bermalam dan menikmati suara gemuruh ombak laut selatan.

Karena berburu dengan waktu, perjalanan langsung kami lanjutkan. Niat awal untuk mencari penginapan disekitar Pantai Santolo langsung batal. 200 ribu rupiah per malam untuk kelas fasilitas kamar sekedarnya dan kamar mandi umum diluar agak susah untuk dicari pembenarannya. Masih ada 30 kilometer yang harus kami tempuh sambil mata terus waspada mencari spot pantai yang menarik untuk lokasi sunrise sore nanti.

Perjalanan menyusuri pantai sebenarnya cukup menyenangkan. Hampir sejauh mata memandang adalah hijau kuning sawah dan kebun jagung, dilanjutkan dengan birunya laut yang menghilang di jauhnya horizon. Kontur area nya pun berbukit-bukit jadi tidak melulu rata. “Hai Neptunus, tolong bantu saya menemukan pantaimu”, bisik lirih navigator saya yang terlihat sangat tidak tenang selama perjalanan. Reputasi sebagai scout terbaik IPC sedang dipertaruhkan dalam perjalanan ini. Berkali-kali setiap melewati punggung bukit terdengar celetukan kekecewaan karena pemandangan pantai yang biasa-biasa saja atau malah tidak terlihat sama sekali.

Pantai Cicalobak, Ranca buaya

Kurang lebih 1.5 jam dari Pameungpeuk kami tiba di Cicalobak, muara sungai kecil yang jaraknya 25 km dari Pameungpeuk. Betul, kami menempuh 25 km saja selama 1.5 jam terakhir. Dari jarak dan waktu tempuh ini bisa dibayangkan kondisi lubang di jalanan seperti apa. Pemandangan ke arah laut lepas dari muara sungai ini cukup menakjubkan. Mungkin terdorong dari bosannya di perjalanan yang lama dan jalan yang cukup parah, begitu mobil parkir, para penumpang langsung berhamburan keluar, tak lupa menenteng kamera masing-masing. Terik matahari sore tak terasa membakar kulit. Ombak laut selatan yang ganas memecah bebatuan karang yang bisa di lihat dengan mata kepala langsung dari tempat aman menjadi suatu pemandangan unik dibandingkan selama ini pemandangan laut jinak yang ditawarkan ancol dan sekitarnya.

Perjudian kami untuk mencari penginapan di Ranca buaya terbayar lunas. Di kompleks pantai Ranca buaya banyak tersedia villa dari kelas losmen sampai dengan penginapan yang cukup bersih setara kira-kira dengan hotel bintang dua. Untuk 300 ribu per malam Vila Jaya Sakti 1 menawarkan toilet dan kamar yang bersih dan ber-AC. Rasanya tidak ada suatu halpun yang bisa di complain. Duduk di beranda kamar sambil mendengarkan nyanyian deru ombak dan kelap kelip bintang di langit sangat menggoda untuk menghabiskan 2-3 hari lagi di tempat ini, melupakan berbagai permasalahan dengan segala kompleksitas kota besar seperti Jakarta. Ditambah dengan kenyataan hampir semua provider telco tidak bisa menerima sinyal disini … Perfect location untuk liburan singkat 2-3 hari.

Malam hari kami habiskan di Vila Jaya Sakti 2 yang cukup ramai dengan pengunjung. Menu nya silahkan pilih sendiri, dan siap lah kakap bakar yang berukuran hampir sebesar penggorengan kecil, tenggiri bakar sebesar lengan laki-laki dewasa, beberapa porsi udang dengan olahan bervariasi dan sayur-sayuran sebagai teman lauk. Cukup 500 ribu rupiah dan 10 orang yang kelaparan setelah perjalanan satu hari satu malam penuh bisa mengunyah dalam diam, sibuk dengan tulang dan sambal tanpa harus kuatir berebutan jatah makanan. Sayang tidak ada bir disini. Next time saya akan ingat untuk membawa beberapa botol Leffe sendiri .. Atau paling tidak San Miguel deh .. :D

Kekenyangan dengan menu makan malam ala Neptunus, waktu menyambut sunrise hampir terlewatkan. Untunglah Puncak Guha jaraknya tidak begitu jauh dari penginapan kami. Sesuai dengan namanya, posisinya cukup tinggi untuk memberikan pemandangan secara keseluruhan daerah Ranca buaya dan sekitarnya. Pengalaman berdiri di bibir tebing yang curam tanpa pagar dengan ketinggian 30-an meter dengan suara hempasan ombak di bawah kaki merupakan suatu pengalaman yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Sejauh mata memandang, buih air laut berkejaran di bibir pantai, dan di sepanjang garis horizon menghadap ke selatan hanyalah ada biru laut tanpa batas dan pulau.

Puncak Guha, Ranca buaya

Disinilah tujuan akhir perjalanan perahu-perahu kertas yang dilepaskan dari manapun di daratan. Dan tidak peduli apakah Dee Lestari memang pernah datang kesini atau tidak saat menulis tempat ini sebagai pantai terindah, Ranca buaya memang menawarkan exotisme dan keindahan pantai yang setara dengan Bali bahkan mungkin lebih. Dikombinasikan dengan keindahan sawah dan hijaunya perkebunan yang bersinggungan langsung dengan pantai … No argument, this is one of the best beaches in south Java. Not that I’ve seen them all, but still .. one of the best so far ..

2 Comments

  • Temboan, kenangan di puncak dunia | Spekology

    15.02.2013 at 22:30 Reply

    [...] sekitar 20-an km arah selatan Manado. Jalan berkelok-kelok mengingatkan saya pada perjalanan ke Rancabuaya di Garut. Tikungan yang sama banyaknya dan sama  gelapnya. Untunglah jaraknya tidak seberapa jauh. [...]

  • wongkar.com | Temboan, kenangan di puncak dunia

    15.02.2013 at 10:55 Reply

    [...] sekitar 20-an km arah selatan Manado. Jalan berkelok-kelok mengingatkan saya pada perjalanan ke Rancabuaya di Garut. Tikungan yang sama banyaknya dan sama  gelapnya. Untunglah jaraknya tidak seberapa jauh. [...]

Post a Comment