Follow Me !
Follow My IG
  • Another milestone End of another grueling two years I thinkhellip
  • How prepared are you? Two more weeks and its gettinghellip
  • Every beginning has an end and every ending is thehellip
  • Last weekend we had a short getaway to Jogja Forhellip
  • All my life essentials in one frame flowers flowerstagram fujihellip
  • Over the last few years I always get to seehellip
  • Jumat itu hari yang paling menyenangkan buat berlehaleha Berandaiandai tentanghellip
  • Selesai seminar 2 bersama 3 dosen super baik Now offhellip
DSC00730

Sawarna, birunya Indonesia

I love the blue of Indonesia .. begitulah bunyi lagu salah satu iklan yang sering ditayangkan di TV pada masanya dulu (ketahuan deh umurnya ..:D), dan kalimat ini benar-benar terbukti nyata saat saya dan beberapa teman dari IPC bermain-main di bebatuan karang dan pantai berpasir putih di Sawarna.

 

Belum pernah dengar tentang Sawarna ? Kemana aja selama ini nih  .. ?
Memang sih, dibandingkan dengan Pangandaran atau Anyer, nama Sawarna baru mulai dikenal beberapa tahun belakangan ini. Tapi bisa dijamin, keindahan yang ditawarkan tidak kalah dengan dua tempat yang lebih dahulu disebutkan tadi.

IMG_14190

Perjalanan dari Jakarta dengan tempo santai memakan waktu kurang lebih 6 jam. Berangkat dari Jakarta jam 10 malam, kami memasuki pit stop pertama di Palabuhan Ratu sekitar jam 2 pagi. Jalur yang ditempuh cukup mulus, walaupun bisa dibilang sempit dan ada beberapa bagian yang berlubang disana-sini. Hati-hati karena lajurnya hanya pas cukup untuk dua mobil berpapasan. Kami memilih melakukan perjalanan malam sehingga sangat jarang berpapasan dengan mobil dari arah yang berseberangan.

 

Stamina yang kurang dan fisik yang tidak terbiasa berkendara di malam hari membuat waktu tempuh 1-1.5 jam dari Palabuhan Ratu menuju Sawarna terasa sangat lama. Bayangan pantai Cisolok, tanjakan tanpa akhir menuju puncak Habibi, dan kelok jalan meliuk diantara pepohonan hutan karet berlalu begitu cepat berlomba dengan mata yang semakin berat dan stamina yang makin menurun. Air mineral sudah habis 2 botol, dan permen mint yang menjadi teman setia sudah habis setengah bungkus, tapi belum ada tanda-tanda pantai di depan mata. Pengecekan di google maps menunjukkan pemukiman terdekat di depan kami adalah Bayah yang akan dicapai dalam setengah jam, tapi tetap tidak ada tanda-tanda pantai, apalagi Sawarna.

 

Salah seorang teman yang menjadi impromptu guide (karena dulu pernah ke Sawarna) mulai ragu dengan rute yang kami ambil karena menurut sygic gps kami sudah melewati posisi belokan pintu masuk menuju Sawarna. Memang tadi terlihat ada jalan kecil berbelok ke kiri, tapi tidak cukup meyakinkan sebagai jalan masuk untuk kendaraan. Dalam segala keraguan, situasi mulai berubah, area sekitar menjadi landai tidak lagi bergunung-gunung dan terlihatlah simpang belokan ke kiri yang cukup representatif sebagai pintu masuk ke Sawarna. Sebenarnya akan sangat membantu kalau ada papan bertuliskan Selamat Datang di Sawarna, tapi sudahlah, yang penting segera tiba di penginapan. Perlahan mulai terlihat kelap kelip lampu pemukiman penduduk. Menjelang jam 4 pagi, kami secara resmi tiba di Sawarna.

 

Perkampungan yang menjadi tempat penginapan kami cukup menarik. Terlihat tertata rapih dan disiapkan dengan fasilitas yang cukup memadai untuk pengunjung. Tidak mengherankan, selain pengunjung domestik banyak terlihat turis manca negara dengan berbagai macam corak rambut dan bahasa yang berbeda-beda. Beberapa dari mereka bahkan ada yang tinggal lebih dari 1 bulan untuk menikmati ombak dan pantai Sawarna yang masih sangat alami.

sawarna

Berhubung waktu yang terbatas, segera setelah check in kami segera menuju ke Tanjung Layar dengan menumpang ojek untuk menyambut sunrise. Dalam gelapnya pagi memang bukan ide yang baik untuk berjalan sendiri menyusuri pantai mencari jalan. 5 menit dengan ojek, dengan segala kesulitan bermotor di pasir dan semak belukar, deru ombak pantai laut selatan mulai terdengar menyambut kami seolah mengucapkan selamat pagi dan selamat datang.

Perlahan tapi pasti semburat sinar matahari pagi membuka kegelapan malam. Batu-batuan karang berukuran raksasa terlihat berdiri kokoh menjaga pantai dari pukulan ganas ombak laut selatan yang berkejar-kejaran. Dibalik karang, ke arah horizon, sejauh mata memandang hanya terlihat buih ombak dan spektrum warna dalamnya biru laut dan cerahnya biru langit. I really love the blue of Indonesia. Sengatan matahari yang sudah cukup tinggi benar-benar tidak terasa saat bermain-main di pantai seindah Sawarna ini.

IMG_14070

Sore hari di Tanjung Layar menampilkan nuansa yang berbeda dengan pagi hari. Deretan bebatuan besar dan kecil berpendar merah dan kuning keemasan ikut meramaikan kegembiraan para pengunjung yang cukup ramai berkelompok melompat dari satu batu ke batu yang lain. Banyak dari mereka yang datang dari Bandung, bahkan Jakarta.

sawarna

 

Sebelum ke Sawarna saya sudah bercita-cita untuk mengabadikan sinar cahaya terakhir hari itu di pantai laut selatan. Tanpa saya sadari saat matahari jatuh dibawah horizon, langit cepat menjadi biru dan secara drastis menjadi hitam kelam. Di kota besar, saat twilight seperti ini banyak cahaya lampu jalanan dan gedung yang menjadi pemanis pemandangan. Tapi tidak di Sawarna. Malam hari artinya gelap gulita. Lampu senter yang saya bawa tidak cukup untuk melihat seberapa jauh saya dari daratan. 15 menit langkah demi langkah menuju pantai terasa tidak cukup cepat berlomba dengan angin malam dari laut yang mendorong ke daratan. Berpatokan pada cahaya lampu petromak dari salah satu kios yang semakin redup, akhirnya saya mencapai pantai berpasir dan untunglah masih ada ojek yang membawa saya, orang terakhir yang ke perkampungan, dengan hati senang … My shot is in the bag !

 

Karakter keras batu karang di Tanjung Layar sungguh bertolak belakang dengan pemandangan yang ditawarkan Pantai Ciantir, walaupun sebenarnya tempatnya bersebelahan. Lokasi nya yang tepat di belakang perkampungan menjadikan pantai ini pilihan utama untuk bermain-main dengan pasir putih dan ombak yang tidak terlalu besar. Demi keselamatan pribadi, pengunjung disarankan untuk tidak terlalu jauh dari pantai saat berenang, dan tidak bermain-main di daerah yang banyak batu karang.

DSC01001

 

Tidak jauh dari perkampungan penduduk di Sawarna ada lokasi pelelangan ikan yang cukup fotogenik lengkap dengan pemandangan jejeran perahu dan para nelayan yang pulang melaut. Masyarakat sekitar menyebutnya Pulow Manuk. Sayangnya saat kami disana hiruk pikuk kesibukan nelayan tidak terlihat karena tidak sedang musim melaut. Hanya ada satu perahu yang merapat dan membongkar muatannya. Lobster ! Di musim ombak besar seperti ini harganya bisa mencapai Rp 300.000/kg .. cash and carry.

DSC00819

 

Selain Tanjung Layar, Pantai Ciantir, dan Pulow Manuk masih banyak lokasi yang menarik di sekitar Sawarna seperti Karang Taraje, Goa Lalai, Pantai… dll. Rasanya 1-2 bahkan 3 hari tidak akan cukup untuk menjelajahi dan menikmati semua keindahan yang ditawarkan Sawarna. Waktu jua lah yang menjadi faktor pemisah, yang mengharuskan kami kembali ke Jakarta, kembali ke kesibukan sehari-hari dangan hiruk pikuk pekerjaan masing-masing.

 

Misi memotret tercapai, kami pulang dengan segudang foto di memory card dan sejuta kenangan tentang Sawarna yang selalu mengundang untuk dikunjungi kembali. Kembali rentetan kalimat dari iklan tv itu tedengar sayup-sayup dan semakin samar .. I love the blue of Indonesia, it’s the flavor in the air .. I love the blue of Indonesia, you can taste it everywhere …

 

Karawaci, 30 November 2012

No Comments

Post a Comment