Follow Me !
Follow My IG

Terperangkap lorong waktu di Laweyan

“Nanti sesudah lampu merah di depan sudah masuk daerah Laweyan. Banyak toko batik sepanjang jalan itu. Bapak tinggal pilih yang mana sesuai selera.”, terang pengemudi taksi yang mengantarkan kami dari FAVE hotel Adisucipto ke daerah Laweyan ini.

Saya teringat pengemudi taksi lain semalam yang mengatakan tidak ada yang jauh di Solo, dan hal itu terbukti pagi ini. 5 menit dari hotel dan argo pun belum menyentuh 15rb rp, kami sudah tiba di Laweyan.

Gerai batik berbagai merk bertebaran di sepanjang jalan ini, tapi kami putuskan untuk anti mainstream dan blusukan di perkampungan di belakang gerai-gerai tersebut.

IMG_6898

Memasuki jalan-jalan sempit di kampung Laweyan yang langsung berbatas pintu rumah dan dinding tembok tak ayal membangkitkan kesan waktu berjalan sangat lambat disini, bahkan bisa dibilang berhenti sama sekali.

Lorong-lorong ini adalah akses yang sama digunakan oleh penduduk awal daerah ini puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu. Kondisi pintu, jendela dan tembok rumah-rumah tersebut terlihat tidak berubah, masih menampilkan orisinalitas dengan beberapa ornament khas rumah jawa masih cukup terlihat.

IMG_6893

Seiring waktu yang berjalan, generasi boleh berganti, namun situasi dan suasana keakraban dikampung Laweyan terlihat masih tidak berubah. Senyum ramah penduduk menyapa kami setiap kali berpapasan dengan warga yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

IMG_6896

Masih terlalu pagi saat kami tiba di Laweyan. Banyak gerai yang masih tutup sehingga kami memutuskan untuk masuk lebih jauh lagi, mencari tahu apa yang ditawarkan oleh perkampungan budaya ini.

Di salah satu pojokan jalan, pintu tiba-tiba terbuka dan nyaring suara menyapa kami, “Mari mas, mbak .. masuk sini. Liat-liat proses pembuatan batik”. Seperti kucing yang ditawari ikan asin, tidak menunggu dua kali dipanggil kami sudah berjejer di dalam, di depan bentangan kain berwarna merah jambu yang sedang ‘ditulis’ oleh Mas Pandono.

Bertubi-tubi cerita tentang proses pembuatan batik diluncurkan oleh beliau. 15 tahun membatik, saat ini corak yang dibawa lebih bersifat modern abstrak dan tidak terpaku pada pakem batik yang formal.

IMG_6941

Tangan terampil Mas Pandono terlihat lincah menggoreskan canting yang berisi malam (lilin), tanpa ada pola sketsa yang tercetak sebelumnya. Memahami keheranan saya beliau menjelaskan “ Kalo mbatik itu, pola nya sudah hafalan mas. Tinggal pinter-pinter yang mbatik aja mengkombinasikan pola gambar yang satu dengan yang lain. Makanya saya tidak perlu sketsa untuk bisa nulis di kain ini”.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, malam dipanaskan sampai mencair pada suhu tertentu. Di suhu optimal, tingkat kekentalan malam akan menentukan kualitas hasil dari tulisan batik tersebut. Tidak usah kuatir dengan residu, karena saat pencucian, residu lilin ini akan terbuang dengan sendirinya.

IMG_6980

Proses penulisan batik sendiri bisa mengggunakan canting ataupun kuas. Canting akan memberikan hasil yang lebih presisi dan konsisten dibandingkan kuas. Namun demikian kuas masih dipergunakan karena memberikan daerah penyebaran yang lebih luas dibandingkan canting.

Satu jam kami di tempat Mas Pandono dan Mbak Puji dengan segala cerita dan pengalaman tentang membatik. Suatu pengalaman yang unik bagaimana memegang canting, meniup ujungnya unutuk membuka blok yang disebabkan pengerasan lilin, sebelum akhirnya digoreskan ke kain sesuai dengan kehendak hati kita.

IMG_6969

Tak terasa kami harus melanjutkan perjalanan menyusuri kembali lorong-lorong kampong Laweyan, mencari taksi yang akan membawa kami kembali ke hotel.

Di lemari stok bahan membatiknya ada 2 helai kemeja yang baru selesai dikerjakan. Tanpa menawar, kemeja seharga 60rb rp tersebut sudah berpindah tangan. Di etalase gerai di jalan utama kemeja tersebut akan bernilai 150rb rupiah.

Dan akhirnya,di hari ke-3 perjalanan dinas ke Solo yang sejak awal sudah diniatkan untuk tidak membeli batik sama sekali, 9 potong batik sudah memenuhi sesak travel bag saya yang saat tiba masih kosong melompong ..

batik .. oh batik …

 

1 Comment

  • j

    23.06.2013 at 22:14 Reply

    Gambarnya ukuran besar2 ya. aksesnya lambat jadinya. Fotonya hebat!

Post a Comment