Follow Me !
Follow My IG

Titik nol, mercu suar Anyer

Saat pintu terbuka, udara pengap menyeruak berlomba memenuhi rongga hidung dan pernapasan saya. Terdiam di ambang pintu, perlu  beberapa saat untuk menyesuaikan dengan keadaan ruangan gelap yang berbentuk lingkaran tersebut. Luasnya tidak seberapa.  Garis tengah kurang lebih 15-an meter, dan di bagian tengah ada silinder berukuran raksasa yang menjulang dari lantai sampai ke plafon. Di dinding silinder tersebut ada pintu yang terbuat dari besi. Mungkin pada masanya, tempat itu berfungsi sebagai lift untuk menuju ke puncak. Bukan untuk pengunjung, tapi lift manual pengangkut bahan bakar untuk lampu mercu suar.

Dengan sedikit ragu saya melangkah masuk, berputar mengelilingi ruangan, mengamati detil yang tersisa dari bangunan ini. Potongan plat besi tebal yang menjadi panel-panel dinding terlihat sangat kokoh dengan baut-baut pengencang hampir sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cat putih interiornya banyak yang sudah mengelupas disana-sini. Saat kaki menapak di anak tangga pertama, dinginnya besi tempa membangunkan saya untuk segera bergegas naik . Di tingkat 2 ini situasi dan interiornya hampir sama dengan lantai pertama tadi, bedanya ruangannya terasa sedikit lebih sempit dan udara lebih pengap.

mercu suar anyer

Semakin sore, cahaya yang masuk dari jendela kecil di tiap lantai semakin redup. Saya merasa membawa backpack dan tripod bukan ide yang baik karena tidak tahu sampai lantai berapa bangunan ini akan berakhir. Saat ini  keinginan saya cuma satu, yaitu sampai di puncak secepat-cepatnya, mengabadikan beberapa moment, dan segera turun dari bangunan ini. Tangga yang berputar dan ruangan yang semakin menyempit membangkitkan rasa tidak enak, terkurung di ruangan sempit dengan dinding metal, yang pada siang hari dan suhu terik bisa berubah fungsi menjadi oven panggangan raksasa. Sekilas dari halaman tadi tampak ada 7 jendela tersusun vertikal dari bawah ke atas. Artinya sebentar lagi saya akan segera tiba di puncak.

Di lantai 7 saya disambut ruangan yang sama persis dengan 6 ruangan yang baru lewat, dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Tapi kenapa masih ada anak tangga lagi yang menuju ke atas ? Tidak mungkin saya salah menghitung. Oh ya, tentu saja … dari jendela terakhir masih harus ada 1 lantai lagi menuju puncak bangunan yang memiliki akses pemandangan keluar.

3 lantai kemudian, anak tangga besi masih tetap ada di tiap ruangan menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Tripod dan tas benar-benar menjadi beban karena saat itu pada prakteknya saya tidak lagi menaiki tangga, tapi menyeret badan untuk naik dengan berpegangan pada dinding dan pagar di sisi tangga. Kuping saya mulai mendengar bunyi-bunyian dentangan metal beradu dengan metal, dan bangunan ini mulai terasa bergoyang.

“Stupid me ! Ini kan bangunan full besi”, pikir saya.  Dengan lokasinya di pinggir pantai dan umurnya yang lebih dari 100 tahun, bukan tidak mungkin bangunan ini menjadi rapuh dan roboh karena hempasan angin. Walaupun bukan termasuk orang yang percaya dengan klenik dan mistik, sempat terbersit bayangan  betapa banyak darah dan nyawa yang dikorbankan untuk membangun mercu suar ini, dan bisa jadi inilah saatnya mereka minta tumbal.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saya berhenti sejenak, mencoba mengatur pernapasan, dan membuang jauh-jauh pikiran yang aneh-aneh itu. Pandangan mata perlahan menjadi lebih fokus walaupun badan masih terasa belum stabil. Saya putuskan untuk melanjutkan ke lantai berikutnya.

Lantai 16, saat mencapai titik menyerah, dan setiap tapak anak tangga harus diselingi istirahat dan satu tarikan napas panjang, akhirnya bunyi gemuruh angin menggema dan hawa ruangan menjadi lebih segar karena ada pintu yang terbuka.  Ruangan yang berdiameter kurang lebih 2 m ini adalah lantai terakhir mercu suar Anyer yang dibangun tahun 1885 pada jaman gubernur Daendels berkuasa di Batavia. Total 17 tingkat dan 286 anak tangga berhasil terlewatkan dengan susah payah. Suatu pencapaian tersendiri mengingat beban yang harus saya bawa hampir 90 kg (termasuk backpack, isinya, dan tripod :D).

mercu suar anyer

Pemandangan yang disuguhkan dari puncak Mercu suar Anyer sungguh luar biasa. Dengan kondisi mata berkunang-kunang dan suasana sore hari yang cukup mendung, terlihat bayangan pulau sumatra di kejauhan dan kelap kelip lampu dari kawasan industri yang saya duga adalah Krakatau Steel. Ke arah tenggara, sejauh mata memandang hanyalah laut dan laut yang maha luas. Begitu pentingnya peranan mercu suar ini, sejak dibangun lebih dari 120 tahun yang lalu, sampai sekarang masih tetap berfungsi sebagai pemandu kapal-kapal yang hendak memasuki selat Sunda.

Mercu suar Anyer banyak menyimpan cerita pilu sejarah. Pembuatan jalan Ayer-Panarukan yang memakan banyak korban rakyat Indonesia pada saat itu, konon dimulai dari sini. Namun masyarakat  Anyer sekarang sudah meninggalkan masa lalunya. Kawasan ini menggeliat dengan sektor pariwisata sebagai ujung tombaknya. Di sepanjang jalan banyak bertebaran penginapan kelas losmen sampai dengan hotel sekelas resort. Berbagai lapisan dan kalangan masyarakat bisa menikmati keindahan pemandangan sunset yang ditawarkan Anyer sesuai dengan budget yang dimiliki.

Di kompleks Mercu suar Anyer ini juga terdapat beberapa cottage yang disewakan untuk pengunjung dengan harga berkisar antara Rp 500.000 – Rp 1.200.000 per malam, tergantung luas dan jumlah kamar. Yang berminat bisa langsung menghubungi petugas di lokasi.

Saat ini yang menjadi kendala hanyalah jalur akses menuju Anyer. Jalur termudah adalah melalui tol merak dan keluar di kota Cilegon. Menyusuri jalan utama, dalam kondisi normal Anyer bisa dicapai dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun perbaikan jalan yang sedang berlangsung saat ini menyebabkan kemacetan yang sangat mengganggu. Alternatif jalan yang saya ambil adalah keluar di kota Serang dan mengambil arah menuju Ciomas (searah Pandeglang). Dari Ciomas menuju ke arah Cinangka yang menjadi titik akhir jalur alternatif ini. Ke kiri menuju Carita, dan ke kanan kurang lebih 10 km adalah Mercu suar Anyer. Jalannya cukup sempit dan di beberapa bagian ada kerusakan, tapi tidak ada kemacetan. Total waktu tempuh Jakarta – Anyer melalui jalur ini kurang lebih 3 jam.

Di sekitar Mercu Suar Anyer sendiri banyak terdapat kios tradisional yang menawarkan berbagai minuman dan makanan pelepas lelah. Air kelapa muda dan otak-otak menjadi jajanan yang pasti akan ditawarkan kepada semua pengunjung.  Pantai yang berbatuan dan karang tentu saja tidak cukup menarik untuk tempat berenang dan berolahraga pantai. Namun cukuplah buat yang ingin sekedar membasahkan kaki dengan air laut. Bale-bale yang disediakan kios bisa menjadi tempat beristirahat sambil menikmati sinar mentari sore yang perlahan turun dan akhirnya menghilang di kegelapan malam.

mercu suar anyer

Tumbuh dan berkembang di kota pantai, jalan-jalan ke Anyer bisa mengobati kerinduan saya untuk bermain-main di laut.  Saat saya bisa berhenti dari rutinitas dan mengambil waktu untuk berintrospeksi terhadap apa yang sedang  dijalani sehari-hari, dengan ditemani bunyi debur ombak di antara bebatuan. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta tiba-tiba terlintas sebaris lagu yang dipopulerkan oleh Sheila Madjid .. antara Anyer dan .. Jakartaa ..

 

Karawaci, 6 Desember 2012

 

3 Comments

  • kikie

    06.12.2012 at 09:04 Reply

    wah bang, dengan kualitas tulisan dan gambar kaya gini, harusnya abang jadi kontributor lepas u majalan-majalah traveling…. ini luar biasa banget bang.
    Padal kalo ada yang ngajakin saya liat mercu suar saya pasti termasuk barisan yang bilang “halah liat apa sih disono” tapi habis lihat gambar-gambar ini jadi pengen dateng kesana.

    • spekology

      06.12.2012 at 09:44 Reply

      wahh .. dapet kehormatan dikunjungi kikie yang dah sekian lama malang melintang di dunia per-blogan :) tulisan iseng ini kie, daripada foto-fotonya hilang di tumpukan gambar di hardisk. yuks kalo mau ke anyer. deket kok ini dari jakarta. selama ini kendala di jalan yang rusak dan macet aja. tapi denger-denger udah rapih jadi dalam 1-1.5 jam dah bisa dicapai dari jakarta. btw, surabaya ada bangunan peninggalan sejarah yang menarik ? :)

  • Mercu suar sembilangan alternatif tempat wisata di surabaya | Spekology

    06.12.2012 at 00:27 Reply

    [...] bangunan, bahan yang digunakan, desain dan segala detilnyasama persis dengan mercu suar Anyer. Hal ini menimbulkan rasa penasaran untuk  mengunjungi mercu suar ketiga yang di [...]

Post a Comment