Travelogue

Bromo, mengejar sang bintang

Bromo, mengejar sang bintang

Udara yang dingin menggigit mengingatkan saya dengan perjalanan ke Papandayan dan Ciwidey tahun 2012 lalu. Bedanya mungkin saat ini saya lebih siap dalam hal perlengkapan. 2 set jaket dan topi kupluk sudah stand by untuk digunakan jika hawa dingin menjadi tidak tertahankan.

Menjelang tengah malam kami berbelok kanan, keluar dari jalur jalan Pasuruan-Probolinggo mengambil jalan yang menuju desa Ngadisari. Tidak terburu-buru tapi nampak ada beberapa mobil di belakang kami membentuk satu barisan panjang yang meliuk-liuk di jalan sempit yang kondisinya cukup baik. “Sebulan yang lalu jalannya ngga serapih ini lho mas”, cerita Mas Kun yang menjadi driver kami malam itu. Keheranan tersebut terjawab dengan banyaknya umbul-umbul dan spanduk sepanjang perjalanan menyambut kedatangan bapak Presiden RI beserta ibu. More

Kemilau pesisir pantai Minahasa Tenggara

Kemilau pesisir pantai Minahasa Tenggara

Saya bergidik membayangkan ban belakang mobil yang hampir selip dan terjepit di rekahan tanah yang menjadi jalur aliran air. Jalanan ini jelas pernah mulus, terlihat dari bagian-bagian aspal menghitam yang masih mengeras di sana sini. Tapi sebagian besar permukaan jalan sudah hancur menyisakan got-got mini di tengah jalan dengan beberapa bagian tanah pembatas antar got tersebut yang masih cukup lebar untuk dilewati ban mobil. Tergelincir masuk ke got tersebut, ban mobil akan terjepit dan mungkin dibutuhkan mobil derek untuk menariknya keluar. Sebastian Loeb pasti akan sangat bergembira disini menemukan habitatnya. Sayangnya saya bukan pereli, dan pastinya sekarang sedang liburan. Kondisi jalan seperti ini benar-benar diluar dugaan saya.

More

Temboan, kenangan di puncak dunia

Temboan, kenangan di puncak dunia

Saya duduk dalam diam, mencoba menikmati goncangan demi goncangan dan naik turunnya kursi tempat duduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Bacaan sudah lama habis, dan kantukpun sudah lama menghilang, tapi tetap saja perjalanan belum ada tanda-tanda akan berakhir.  Deru mesin pesawat tidak lagi terdengar, yang ada hanya ada seruan-seruan lirih penuh kuatir setiap badan pesawat terhempas 1-2 meter dari ketinggian semula. Yah .. sudah resiko perjalanan malam, walaupun saya sendiri tidak tau apa ada efeknya terbang malam dengan ketidak nyamanan selama perjalanan ini. Mungkin semakin malam semakin banyak kantong hampa udara yang harus dilewati oleh pesawat sehingga menyebabkan perjalanan terasa laiknya gerobak sapi di jalanan yang belum mengalami pengerasan dan aspal.

More

Rancabuaya, eksotisme terpendam pantai selatan

Rancabuaya, eksotisme terpendam pantai selatan

“Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaibnya hidup ini. Mencari-cari tambatan hati ..”, lembut alunan suara Maudy Ayunda terdengar dari siaran radio yang sebentar hidup dan sebentar mati saat  mobil kami berkelok-kelok di jalanan yang membelah perkebunan teh daerah Cisompet, kabupaten Garut, Jawa Barat.

  More

Nikmatnya pepes jambal bendungan Walahar

Nikmatnya pepes jambal bendungan Walahar

“Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut …”, menurut potongan lagu Bengawan Solo yang sangat dikenal tua dan muda di luar dan dalam negeri. Tapi di depan saya  ini bukanlah Bengawan Solo, melainkan sungai Citarum yang menjadi salah satu urat nadi kehidupan di Jawa Barat, khususnya daerah sekitar Karawang.

More

Papandayan, keabadian edelweis

Papandayan, keabadian edelweis

Saya terbangun karena udara dingin yang menggigit. Topi kupluk, kaos kaki dan dua lapis jaket dengan hoodie-nya belum sanggup menahan gempuran hawa dingin pegunungan. Di loteng warung yang kami pinjam sebagai tempat istirahat ini keadaan cukup sempit untuk empat orang. Tapi dinginnya udara pagi di Papandayan tetap menyusup masuk.

More

Titik nol, mercu suar Anyer

Titik nol, mercu suar Anyer

Saat pintu terbuka, udara pengap menyeruak berlomba memenuhi rongga hidung dan pernapasan saya. Terdiam di ambang pintu, perlu  beberapa saat untuk menyesuaikan dengan keadaan ruangan gelap yang berbentuk lingkaran tersebut. Luasnya tidak seberapa.  Garis tengah kurang lebih 15-an meter, dan di bagian tengah ada silinder berukuran raksasa yang menjulang dari lantai sampai ke plafon. Di dinding silinder tersebut ada pintu yang terbuat dari besi. Mungkin pada masanya, tempat itu berfungsi sebagai lift untuk menuju ke puncak. Bukan untuk pengunjung, tapi lift manual pengangkut bahan bakar untuk lampu mercu suar.
More

Sawarna, birunya Indonesia

Sawarna, birunya Indonesia

I love the blue of Indonesia .. begitulah bunyi lagu salah satu iklan yang sering ditayangkan di TV pada masanya dulu (ketahuan deh umurnya ..:D), dan kalimat ini benar-benar terbukti nyata saat saya dan beberapa teman dari IPC bermain-main di bebatuan karang dan pantai berpasir putih di Sawarna. More

fullscreen